Termasuk yang baru-baru ini, isu larangan berdoa sebelum dan sesudah kegiatan belajar di sekolah. Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan, Anies Baswedan pun tak luput dari kritikannya. Meski akhirnya sudah dibantah dan diklarifikasi oleh menteri bersangkutan.
Soal twit-twit Marzuki yang kerap 'nyaring', seorang aktivis Emergency Red (Mer C), Geisz Chalifah punya pandangan tersendiri.
"Saya ingin menanggapi kicauan Marzuki Alie akan tetapi bukan soal doa karena sudah biasa politisi mencuri panggung," ujarnya melalui pesan singkatnya kepada Kantor Berita Politik
RMOL (Senin, 15/12).
Kicauan dimaksudnya berkaitan dengan pidato Marzuki pada pembukaan Konferensi Pembebasan Palestina di Bandung, Jawa Barat, 4-5 Juli 2012 silam. Dalam satu pernyataannya, Marzuki yang saat itu masih menjabat ketua DPR, mengklaim diri sebagai peletak batu pertama pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina.
Geisz menekankan, apa yang disampaikan Marzuki tersebut dusta belaka. Dusta yang demikian itu, dinilainya sangat nyata sebagai upaya penggiringan opini bahwa pemerintah bersama DPR ikut membantu pembangunan RS di Gaza.
"Sesungguhnya semua yang di MER C sangat tahu bahwa tidak ada satu rupiah pun bantuan dari pemerintah maupun DPR di era SBY maupun Jokowi saat ini," bebernya.
Menurut Geisz, pembangunan RS di Gaza, murni dari dana rakyat Indonesia. Marzuki Alie juga tidak pernah meletakan batu pertama dalam pembangunan tersebut.
"Marzuki Alie jangan mengaku-ngaku pekerjaan orang lain karena yang dia lakukan di Palestina bukan membantu RS Indonesia di Gaza tapi menyerahkan bantuan untuk IDB yang sedang membangun sekolah yang proyeknya terbengkalai sampai saat ini," terangnya.
Geisz mengimbau sebaiknya Marzuki Alie tidak perlu mengomentari banyak hal karena seringkali salah.
"Ditambah pula dia telah berdusta di depan publik terhadap pekerjaan rakyat yang diklaim sebagai bantuan pemerintah dan DPR," tandasnya
.[wid]
BERITA TERKAIT: