Duh, Elpijiku Semakin Ringan Terbang Mengangkasa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Jumat, 12 September 2014, 02:38 WIB
<i>Duh, Elpijiku Semakin Ringan Terbang Mengangkasa</i>
rmol news logo Mulai kemarin, harga gas elpiji ukuran 12 kilogram naik sebesar Rp 1.500 per kilogram atau Rp 18.000 per tabung. Meski sudah disosialisasikan sejak lama, masyarakat tetap saja keberatan. Berbagai protes pun muncul di dunia maya.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budyo beralasan, pihaknya terpaksa harus menaikkan elpiji 12 kilogram karena tidak memperoleh subsidi. Menurut dia, harga elpiji 12 kilogram yang dijual selama ini masih jauh di bawah harga keekonomian. Padahal, Pertamina memiliki kewajiban untuk menjual gas elpiji berdasarkan harga keekonomian.

Berdasarkan acuan Contract Price Aramco (CP Aramco) harga keekonomian elpiji 12 kilogram seharusnya Rp 15.110 per kilogram atau Rp 181.400 per tabung.

Akibat kenaikan ini, penjualan gas elpiji 12 kilogram di sejumlah daerah mengalami penurunan drastis. Para pelanggan banyak yang beralih ke gas melon alias elpiji ukuran 3 kilogram yang masih disubsidi pemerintah.

Di jagad Twitterland, perbincangan tentang kenaikan ini ramai sekali. Protes, kecewa, dan rasa khawatir akan diikuti kenaikan komoditas lainnya.

"Usai BBM sekarang lanjut gas. Besok lusa apa lagi? Jangan-jangan MCK juga naik harga karena alasan tisu naik harga," tulis pemilik akun @TommySoeharto62.

Akun @rhesya_s25 membuat perumpamaan yang cukup menarik. "Elpiji-ku semakin ‘ringan-terbang mengangkasa’, semakin susah direngkuh-diraih-dibeli. (Back to 3 kilogram saja)," kicaunya.

Pemilik akun @anyoot kaget karena harga elpiji naik setelah tarif dasar listrik (TDL) baru saja mengalami kenaikan. "Etdah naik mulu. Ganti yang 3 kilo juga deh," tulisnya. "Kayak adu sprint aja. Saling kebut, saling kejar. Ini naik-itu naik. Yang turun, cuma hujan. Bah!" timpal akun @rhesya_s25.

Tweeps @Buday35193 menyebut, kenaikan ini jelas sangat membebani rakyat kecil. "Kasihan warga Indonesia, elpiji naik harganya, bensin juga, mudah-mudahan kita semua sanggup menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di negeri ini," katanya.

Rohmad Hadiwijoyo menuding, kenaikan ini karena elite politik tak peduli dengan nasib rakyat kecil. "Elite politik lebih senang meributkan deal-deal politik untuk kepentingannya daripada memikirkan kebutuhan rakyat yang sangat mendesak, seperti harga gas elpiji," tulisnya di akun @RHadiwijoyo.

Namun, ada juga yang mendukung. Akun @erikbanjar mengatakan, lebih baik naik daripada elpiji menjadi lahan oknum untuk menimbunnya. "Lebih cepat lebih baik sehingga tidak terjadi penimbunan dan kelangkaan," ucapnya, bijak.

Tweeps @MICHAELYARIBA mencoba memberi solusi. Kata dia, dengan kenaikan ini pemerintah dan masyarakat bisa memanfaatkan energi terbarukan yang tidak perlu membutuhkan biaya yang besar. "Pakai biogas lebih murah. Bolehlah kita coba," sarannya.[dem]

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA