"Pola pikir mereka tentu akan jauh berbeda dengan generasi-generasi pemilih sebelumnya. Pada Pemilu 2019 nanti, jumlah generasi baru ini akan berlipat-lipat dari jumlah saat ini. Ini harus dibaca oleh Partai Golkar," jelas Ketua DPP Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, dalam diskusi panel nasional yang digelar Forum Komunikasi Ketua DPD Golkar di Yogyakarta (Minggu, 7/9).
Menurut tokoh muda penerima Anugerah Bintang Mahaputra Adipradana ini, Golkar tidak boleh terpaku pada basis-basis tradisional.
"Kita harus berani bertindak dan bekerja out of the box. Kita harus membuka lebar-lebar pintu partai bagi para generasi pembaharu-pembaharu muda di luar jalur ‘ABG’ (ABRI/TNI, Birokrasi dan civil society yang terhimpun di Golkar)," jelas Priyo yang tengah memaparkan visi misinya dalam Diskusi Panel Nasional yang diselenggarakan Forum Komunikasi Ketua DPD Partai Golkar di Yogyakarta itu.
Generasi dimaksud Priyo yakni yang lahir dari gemblengan organisasi-organisasi kepemudaan, BEM, LSM, aktivis pers, profesional muda, pimpinan gerakan buruh, tokoh-tokoh pejuang desa, atau kelompok-kelompok aktivis yang kritis dan kreatif, yang sering menghiasi pemberitaan. Mereka adalah kekuatan besar yang selama ini belum tersentuh secara signifikan oleh tangan-tangan Partai Golkar.
Priyo menjelaskan, stigmatisasi Partai Golkar sebagai “Partai Cap Orang Tua†adalah sindiran yang teropinikan sebagai kumpulan para orang tua atau pensiunan yang mengalami proses penuaan.Namun dengan lompatan besar, Priyo yakin Golkar akan semakin diperkaya sumber-sumber kader potensial yang bisa ditugaskan partai di seluruh tingkatan jenjang kepimpinanan di pusat dan daerah.
Langkah inilah, menurut dia, yang akan membawa dan meneguhkan Partai Golkar sebagai Partai yang inklusif dan terbuka bagi seluruh elemen anak negeri.
[wid]
BERITA TERKAIT: