Demikian dikatakan Wakil Sekjen DPP PKS, Fahri Hamzah, dalam pernyataan pers, Jumat (8/8). Menurut dia, gagasan koalisi permanen di parlemen terjadi karena partai-partai diharuskan konsisten dengan pilihan politik yang diperjuangkan.
"Koalisi maupun oposisi saat ini tidak memiliki platform. Ini terjadi karena pada Pilpres 2009 ada tiga kandidat. Tersisa dua pasang di putaran kedua, sedangkan yang lain dipaksa keluar. Pemaksaan itu membuat tidak terjadinya kristalisasi pikiran dari kelompok-kelompok ini," kata Fahri.
Kondisi itu berbeda dengan Pilpres 2014. Walau menuai sengketa, sejak awal partai-partai sudah bergabung jadi satu kelompok sehingga terjadi kristalisasi. Polarisasi identitas kelompok ini dinilainya sangat baik.
Polarisasi dan kristalisasi, menurutnya, tidak hanya terjadi di partai politik melainkan bisa masuk ke semua lini termasuk keilmuan, media massa, pengusaha dan termasuk para pemuka agama.
"Kategorisasi kelompok yang terjadi sebelumnya kurang dialektif, sekarang akan menjadi dialektis. Kalau kami boleh identifikasi, maka kami (Prabowo-Hatta) sekarang menjadi kelompok yang nasionalis-religius. Demokrasi akan menjadi menarik,†imbuhnya.
Fahri percaya, partai-partai lain yang telah tergabung dalam koalisi Merah Putih tidak akan berkhianat walau dikalahkan lewat proses konstitusional. Karena, partai-partai di koalisi ini juga memiliki cita-cita untuk memperbaiki wajah demokrasi di Indonesia.
"Semua ingin demokrasi lebih sehat lewat konsistensi terhadap ide dan nilai perjuangan," tegas Fahri.
[ald]
BERITA TERKAIT: