"Jokowi sudah mengatakan akan merangkul semua, sementara SBY orangnya terbuka bekerja sama dengan siapa saja," kata pakar komunikasi dari Universitas Andalas Padang, Yuliandre Darwis, Ph.D kepada
Rakyat Merdeka Online, Rabu (6/8).
Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menjelaskan, komunikasi antara SBY dengan Jokowi-JK selama ini berjalan dengan baik dan cair.
"Apalagi SBY bukan orang ekstrim. Biar dia kalah (pileg), dia bisa mensituasikan kedaaan. Dia orangnya fleksibel," terang Yuliandre.
Yuliandre mencontohkan, SBY sudah memberi simbol bakal bergabung dengan pemerintahan Jokowi-JK 2014-2019. Seperti 'mengutus' Ruhut Sitompul merapat ke kubu Jokowi-JK.
"Syarief Hasan (Ketua Harian Demokrat) dan Amir Syamsuddin (Ketua Dewan Kehormatan Demokrat) juga sudah memberikan sinyal (bergabung dengan Jokowi-JK)," terangnya.
Namun, lanjut Yuliandre, yang jadi hambatan bagi Demokrat dan SBY bergabung ke kabinet Jokowi-JK adalah, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sudah pengetahuan umum, hubungan SBY dan Mega selama ini tidak berjalan dengan baik.
"Mega jadi penghambat bagi SBY," demikian Yuliandre Darwis.
[rus]
BERITA TERKAIT: