Demikian disampaikan Koordinator Nasional (Kornas) Relawan Gema Nusantara, Muhamad Adnan dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Jumat (4/7).
Adnan mengatakan, deklarasi dan konsolidasi Relawan Gema Nusantara secara nasional dan di daerah dilaksanakan dengan penuh kegembiraan bersama rakyat tanpa sedikitpun menyinggung tentang kampanye negatif, kampanye hitam, dan menyerang lawan.
"Sudah saatnya rakyat diberi pendidikan politik yang sehat dengan mengajak rakyat bicara dari hati ke hati mengenai kondisi bangsa yang semrawut, mengajak rakyat bersama sama bergabung dalam gelombang besar perubahan dengan turun tangan bersama sama meyelamatkan ibu pertiwi, menyelamatkan Indonesia yang telah diwariskan oleh para pendahulu republik ini," terangnya.
Namun, lanjut Adnan, menjelang akhir masa kampanye ini situasinya mulai berubah. Kampanye hitam berseliweran dan dipertontonkan dengan telanjang di depan publik. Kekerasan verbal mulai dilakukan dengan melakukan intimidasi kekerasan kepada media. Cara-cara yang justru dulu sangat keras ditentang oleh kelompok pro demokrasi. Sayangnya ini dilakukan oleh kawan-kawan yang selama ini paling kencang berteriak tentang reformasi dan kebebasan pers.
"SMS perintah melakukan kekerasan yang beredar ke publik yang diduga kuat berasal dari seorang sekelas Sekretaris Jenderal DPP PDIP Tjahyo Kumolo, yang memerintahkan kadernya terutama relawan perjuangan demokrasi yang rata-rata anggotanya adalah mantan mantan aktivis 98 untuk melakukan tindakan kekerasan sungguh melukai hati publik. Penyerangan secara serentak dan sporadis ke studio salah satu televisi berita nasional di Jakarta dan beberapa daerah menunjukan bahwa akal sehat dalam demokrasi mulai terpinggirkan, saluran resmi yang bisa dilakukan untuk menyampaikan keberatan atas konten berita tak lagi hiraukan," ujar Adnan.
Untuk itu, Relawan Gema Nusantara mengajak seluruh elemen bangsa yang mencintai negeri ini, untuk mengedapankan cara-cara sehat dalam berdemokrasi. Pilpers adalah alat untuk memperoleh kekuasaan, meminta mandat rakyat dengan cara-cara damai, mengedepankan visi, gagasan dan cita-cita serta program pro rakyat yang melindungi segenap tumpah darah bangsa Indonesia, memajukan kesejatraan umum dan ikut menciptakan perdamain dunia sesuai cita cita konstitusi.
"Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?" demikian Muhamad Adnan.
[rus]
BERITA TERKAIT: