Hal tersebut sebenarnya tidak akan terjadi bila Partai Demokrat mengajukan calon ketiga.
"Padahal ada peluang bisa bertarung baik, mengkonsolidasi partai yang berantakan dengan calon ketiga yang bermain moderat," kata peneliti senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte dalam akun twitternya,
@pjvermonte beberapa saat lalu (Selasa, 17/6).
Ia menyebut, calon moderat bisa masuk putaran kedua di tengah sengitnya persaingan kubu Jokowi dan kubu Prabowo.
"Lalu mendapat limpahan dari salah satu kubu yang saling benci," sambungnya.
Fenomena politik semacam itu, kata Philips, pernah terjadi pada pemilu Peru pada tahun 1990 lalu. Pada saat itu, Fujimori mencalonkan diri sebagai capres satu bulan sebelum pemilu digelar. Padahal pada saat itu telah ada dua calon dominan yang bersaing ketat sebelumnya.
Dari kedua calon tersebut, masih kata Philips, yang paling populer adalah novelis peraih nobel, Vargas Llosa. Sedangkan calon lainnya merupakan seorang tokoh nasionalistik.
Pada saat itu dalam survei-survei elektabilitas, Fujimori hanya memperoleh satu persen suara.
"Putaran satu Llosa unggul, pendukung sorak-sorak lihat quick count. Llosa bertanya, siapa juara dua? Fujimori, dia bilang: tidak usah putaran dua, saya pasti kalah," ujar Philips.
"Tapi menghindari krisis konstitusional, Llosa tetap maju (putaran kedua) dan kalah dari Fujimori, karena pendukung calon satu lagi benci Llosa, pindah ke Fujimori," sambungnya.
Philips menyebut, apa yang dilakukan Fujimori saat ini cerdas karena dapat pembaca perilaku pemilih biasa, yakni bermain moderat di tengah dua calon yang terpolarisasi.
"Sayang Partai Demokrat tidak melihat itu, lalu bilang mau netral yang ternyata tidak juga. Sangat aneh partai berkuasa 10 tahun tidak mau melanjutkan legacy," bebernya.
Padahal, sejak awal tanda-tanda polarisasi keras partai pendukung Jokowi dan Prabowo sudah terlihat jelas.
"Kalau SBY mau, pilpres kita tidak brutal begini," demikian Philips.
[rus]
BERITA TERKAIT: