Menurut pengamat politik yang juga Sekjen Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI), Umar S. Bakry, ada dua penyebab utama mengapa peluang PKB bergabung dengan Gerindra sangat kecil.
Pertama, secara psikologis keberadaan Yenny Wahid di belakang Prabowo Subianto akan menjadi penghambat bergabungnya PKB Muhaimin Iskandar dengan Gerindra.
Kedua, karena merasa menjadi partai terbesar di kalangan partai-partai berbasis massa Islam, PKB pasti mengsyaratkan posisi cawapres jika ditawari koalisi dengan Partai Gerindra.
"Tuntutan ini belum tentu dikabulkan Prabowo," kata Umar dalam keterangannya, Minggu (20/4).
Sebelumnya Umar mengatakan, partai Islam diyakini akan lebih memilih berkoalisi dengan Partai Gerindra daripada dengan PDI Perjuangan maupun Partai Golkar. Sedikitnya ada tiga faktor yang membuat peluang Partai Gerindra lebih didukung partai Islam daripada dua poros koalisi lainnya.
Pertama, secarai deologis platform Gerindra lebih bisa diterima bahkan didukung oleh partai Islam. Gerindra yang menonjolkan nasionalisme dan anti dominasi asing lebih nyetel dengan aspirasi sebagian besar konstituen partai Islam.
Kedua, secara historis tidak pernah ada friksi antara partai Islam dengan Prabowo Subianto maupun dengan Gerindra. Bahkan saat masih aktif di dinas kemiliteran Prabowo dikenal sebagaisosok perwira yang selalu membela kepentingan ormas-ormas Islam yang dimarjinalkan rezim Orde Baru.
Ketiga, sikap PDI Perjuangan yang katanya tidak menghendaki koalisi transaksional secara tidak langsung menguntungkan posisi Gerindra. Prabowo akan menjadi alternatif bagi partai-partai yang kecewa terhadap sikap Jokowi dan PDI Perjuangan.
[rus]
BERITA TERKAIT: