Politik Dagang Sapi Akan Kembali Dipraktekkan Parpol

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Jumat, 11 April 2014, 09:46 WIB
Politik Dagang Sapi Akan Kembali Dipraktekkan Parpol
Haris Rusly/net
rmol news logo Perubahan melalui jalan parlementer mensyaratkan terbentuknya sebuah kekuatan yang determinan, baik di parlemen maupun eksekutif. Tanpa adanya kekuatan yang determinan di parlemen, kebijakan seorang presiden terpilih untuk melakukan transformasi struktural akan dihadang oleh banyaknya parpol di parlemen yang haus kekuasaan.

Koordinator Petisi 28 Haris Rusly mengatakan, sebagaimana yang telah diprediksikan banyak kalangan lima bulan lalu, pileg 2014 pasti tak menghasilkan parpol yang menjadi pemenang absolut di atas 30 persen. PDIP yang sebelumnya diprediksi akan mendapatkan tumpahan suara Jokowi Effect di atas 30 persen, ternyata hanya memperoleh 18 persen hingga 19 persen suara.

Menurutnya, kenyataan tidak adanya parpol yang meraih suara di atas 20 persen sangat berpengaruh pada empat keadaan politik. Pertama, PDIP yang menjadi juara satu tak otomatis akan menempatkan calon presidennya terpilih menjadi presiden RI, apalagi effect popularitas capres Jokowi yang mulai terasa hambar.

Kedua, akan memicu pertarungan internal parpol untuk mengoreksi kembali keputusannya terkait sosok capres yang diajukan. PDIP dan Golkar dapat saja meninjau ulang figur capres yang telah diajukan.

Ketiga, politik dagang sapi dan bagi-bagi kue kekuasaan untuk membangun koalisi akan kembali dipraktekkan parpol pemburu jabatan dan haus uang haram.

Keempat, sipapun yang terpilih menjadi presiden akan menghadapi keadaan instabilitas politik. Presiden terpilih akan kembali disandera parpol dab parlemen.

"Hasil pileg tersebut memastikan berlanjut kembalinya keadaan bangsa dan negara yang makin berantakan dan terjajah. Keadaan rakyat juga pasti makin miskin dan melarat," ujar Haris dalam keterangannya, Jumat (11/4).

Dan kepada para pemuda, mahasiswa, kekuatan rakyat serta prajurit TNI dan Polri untuk tak terjebak pada pertarungan partisan atau kepentingan antar parpol dan capres yang memburu kue kekuasaan.

"Bersatu, bersatu tata ulang negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945," demikian Haris. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA