Menurut pengamat politik dari Lembaga Kajian Politik Indonesia (LKPI) Dendi Susianto, cawapres pendamping Jokowi harus lebih muda atau seumuran dengan Jokowi.
Alasannya adalah, pertama cawapres pendamping Jokowi harus bisa mengimbangi kecepatan kerja Jokowi. Kemudian yang kedua jika cawapres pendamping Jokowi lebih senior dari Jokowi, ditakutkan nanti akan muncul kendala psikologis Jokowi dalam hubungan kerja dengan cawapresnya. Kriteria selanjutnya adalah, cawapres pendamping Jokowi harus merupakan sosok yang bisa menutupi kekurangan atau kelemahan Jokowi.
"Misalnya, Jokowi sering dianggap sebagai sosok yang kurang konseptual, selanjutnya Jokowi dianggap kurang memiliki pergaulan internasional dan wawasan global. Cawapres pendamping Jokowi harus bisa menutupi kekurangan-kekurangan itu," ujar Dendi dalam rilisnya, Senin (17/2).
Sementara, wacana capres-cawapres yang mengedepankan Jawa-nonJawa, sipil-militer, dan nasionalis-Islam, kata Dendi, tidak lagi relevan. Indonesia saat ini membutuhkan capres-cawapres yang dapat bekerja cepat untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. Oleh karena itu capres dan cawapres 2014 harus pasangan muda.
"Dari sisi usia, Rismaharini (52), Ahok (47), Ganjar (45), Puan (40), Anies Baswedan (44), Priyo Budi Santoso (48) memenuhi kriteria untuk menjadi cawapres pendamping Jokowi (52). Tinggal kita nilai apakah tokoh muda tersebut bisa meningkatkan elektabilitas bila dipasangkan dengan Jokowi, dan bisa menutupi kekurangan-kekurangan Jokowi," pungkas Dendi.
Dalam berbagai survei elektabilitas calon presiden 2014 yang dilakukan oleh banyak lembaga survei, Jokowi selalu menempati nomor satu. Dukungan dari berbagai pihak agar Jokowi maju sebagai calon presiden juga terus bermunculan. Dalam berbagai kesempatan PDIP juga menyatakan bahwa Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai pententu calon presiden dari PDIP mempertimbangkan Jokowi sebagai calon yang akan diajukan.
[rus]
BERITA TERKAIT: