Tim peneliti yang terlibat dalam pembuatan laporan tersebut menyebut bahwa efek kejiwaan yang diderita anak-anak tersebut dapat bertahan seumur hidup bila tidak ditangani.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Shigeo Kure dari Tohoku University, School of Medicine menemukan bahwa 25.9 persen anak-anak yang berusia antara tiga hingga lima tahun yang pernah mengalami bencana tsunami menunjukkan sejumlah gejala gangguan kesehatan seperti vertigo, mual dan sakit kepala. Beberapa di antaranya menunjukkan perilaku psikologis yang mengkhawatirkan seperti tindakan kekerasan atau penarikan diri dari lingkungan.
Perilaku anak-anak itu, jelas tim peneliti melalui laporan tersebut, dipicu oleh trauma yang dialaminya. Mereka kehilangan teman-teman bermainnya. Mereka juga melihat rumah mereka yang runtuh, atau terjangan air. Beberapa di antaranya bahkan kehilangan orang tua.
Bila tidak menerima perawatan kejiwaan, gangguan yang dialami anak-anak tersebut dapat menjadi lebih buruk di kemudian hari, seperti gangguan perkembangan dan kesulitan belajar yang akan mempengaruhi prestasi akademik.
"Karena mereka mungkin memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain akibat pengaruh dari pengalaman bencana," jelas Kure seperti dikuti AFP.
Bencana tsunami yang menimpa Jepang pada Maret 2011 lalu dipicu oleh gempa bawah laut. Lebih dari 18.000 orang tewas akibat terjangan tsunami. Bencana tersebut kemudian diperparah dengan adanya kebocoran reaktor nuklir di Fukushima yang memaksa puluhan ribu orang mengungsi demi menghindari radiasinya.
Penlitian tersebut melibatkan 178 anak yang orang tua atau walinya telah setuju untuk bekerjasama di tiga wilayah yang paling parah terkena bencana, yakni Iwate, Miyagi, dan Fukushima.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan standar yang diakui secara internasional. Anak-anak tersebut diteliti sejak September 2012 hingga Juni tahun 2013 lalu.
"Anak-anak yang menjadi bagian dari penelitian kita telah menerima dan akan tetap menerima perawatan kejiwaan hingga tahun mendatang, tapi masalah lain adalah bagaimana menjangkau anak-anak yang juga membutuhkan perawatan, namun belum teridentifikasi dalam daftar," jelasnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: