Begitu ujar pengurus Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Iwan Nur Iswan dalam diskusi mingguan di markas PPI, Duren Sawit, Jakarta, Jumat (15/11).
"Jadi wajar kalau Ruhut ditolak sebagai Ketua Komisi III," ucap Iwan disambut tawa audiens.
Sebagai anggota Komisi III DPR, katanya, Ruhut seharusnya pandai menempatkan diri saat hadir di depan publik. Bukan menampilkan karakter "si Poltak Raja Minyak" seperti saat masih menjadi artis.
Lebih lanjut, analis politik PPI ini mencontohkan bagaimana seorang pelawak di Amerika Serikat, Al Franken, yang menjadi senator di negara bagian Minnesota. Usai terpilih, Franken pandai menempatkan dirinya dengan tidak terlalu sering mengeluarkan pernyataan yang sifatnya remeh-temeh.
"Meski suka menghibur, tetapi hal itu dilakukannya hanya sesekali dan bukan dalam kapasitas sebagai pejabat publik," imbuh dia.
"Seharusnya Ruhut juga menyadari posisi dan punya kualitas dalam mengeluarkan statement. Sulit membedakan apakah Ruhut sedang melawak atau serius," tandasnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: