"Kampanye hitam bermuatan SARA pernah dilancarkan oleh pihak Fauzi Bowo pada masa Pemilihan Gubernur DKI 2012. Kami menganggap tidak pantas memilih tokoh yang tidak menjunjung nilai-nilai multikultural dan pluralisme untuk menjadi kepala perwakilan negara Indonesia yang merupakan bangsa yang majemuk," begitu isi pernyataan sikap Aliansi Peduli KBRI Jerman (Berlin), tertanggal 6 September 2013 sebagaimana dikutip dari
www.change.org.
Alasan kedua, Foke tidak memiliki kontribusi dan track record nyata dalam hubungan diplomasi Jakarta-Berlin. Foke juga tidak punya prestasi nyata dalam pembangunan Kota Jakarta selama ia menjabat sebagai gubernur, khususnya dalam perbaikan infrastruktur kota dan pengatasan masalah kemacetan sebagaimana digadang-gadang dalam slogan "Serahkan Pada Ahlinya".
"Sebagai gubernur dengan predikat lulusan universitas Jerman dalam bidang perencanaan kota, Fauzi Bowo telah gagal mengaplikasikan ilmunya. Sebaliknya, selama masa kepemimpinannya, justru kondisi tata ruang Kota dan sistem transportasi Jakarta semakin semrawut," begitu pertimbangan ke tiga penolakan Aliansi KBRI Jerman.
Pertimbangan ke empat, Foke merupakan tokoh yang sudah kehilangan kepercayaan di kota yang pernah dipimpinnya. Sangat ironis kalau Pemerintah Indonesia justru memberikan jabatan yang lebih tinggi dengan menempatkan Foke sebagai kepala perwakilan Indonesia di sebuah negara penting Eropa.
Selama kepemimpinan Foke, fenomena intoleransi dan premanisme semakin berkembang dengan maraknya aksi kekerasan oleh ormas-ormas terhadap kelompok minoritas tanpa ada aksi pencegahan nyata dari Foke dan perangkatnya sebagai pengayom Jakarta.
"Sebagai pemimpin, Fauzi Bowo sering kali mengeluarkan pernyataan kontroversial yang mencederai rasa keadilan orang banyak, seperti, rok mini sebagai pemicu aksi pemerkosaan, mengasosiasikan banjir hanya sebagai genangan air, menuduh pengguna sepeda motor sebagai biang kemacetan di Jakarta, dan sebagainya," demikian alasan terakhir Aliansi KBRI Jerman.
[dem]
BERITA TERKAIT: