"Harus ketat betul, disiplin betul Menkeu ini. Jangan mau dibelok-belokkan oleh kepentingan entah kepentingan presiden, entah kepentingan 2014 atau apa tapi untuk kepentingan rakyat banyak," tekan Romo saat ditemui
Rakyat Merdeka Online di sela-sela peluncuran buku 'Plato Tak Bohong: Atlantis Ada di Indonesia' di Gedung Krida Bhakti Sekretariat Negara, Jalan Veteran 3 no 22, Jakarta Pusat, (Senin, 20/5).
Sebagai orang muda, Romo Mudji menyebut Chatib sebetulnya pun tak jauh berbeda dengan pendahulunya, Sri Mulyani yang cenderung konsen pada jalur ekonomi makro. Dalam artian, disiplin ilmunya lebih bertumpu dalam jaringan global yang sangat kapitalis dan tidak pernah ekonomi kerakyatan. Hal ini praktis sejalan dengan realitas pemerintahan SBY selama ini yang sangat pro kapitalis atau Amerika Serikat.
"Padahal problem yang terjadi di lapangan adalah ekonomi mikro dan pro rakyat itu sudah hampir habis semua sampai hari ini," sesalnya.
Jadi, lanjut Romo Mudji, baik Chatib maupun Sri Mulyani meski berintegritas tinggi tapi tidak memiliki pemihakan terhadap ekonomi kerakyatan.
"Chatib Basri hanya melanjutkan saja, tidak ada perubahan untuk pro rakyat dan sudah terbukti semuanya sekarang ini kepentingan big boss dan konglomerasi yang besar-besar yang diuntungkan," ucapnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: