Namun demikian, kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana mengingatkan bencana banjir yang menggenangi sekitar 8 persen wilayah Jakarta sepanjang hari kemarin jadi pertimbangan penting agar semua otoritas kebencanaan mempersiapkan emergency plan atau manajemen rencana kedaruratan di Jakarta.
"Hingga saat ini Jakarta belum memiliki emergency plan yang jelas. Emergency plan penting karena kita tidak menghendaki ibukota negara lumpuh (lagi) karena bencana, baik itu banjir, gempabumi, penurunan muka tanah, dan lain-lainnya," kata Erick Rizky, Assisten Staf Khusus Presiden Bidng Bantuan Sosial dan Bencana, Jumat (18/1).
Kebutuhan Jakarta memiliki emergency plan yang jelas sangat mendesak. Sebagai ibukota negara, di Jakarta ada banyak arena pusat instalasi penting dan vital seperti pusat listrik, jaringan internet, jaringan logistik, transportasi, perdagangan dan investasi, serta pemerintahan.
Banjir yang terjadi kemarin misalnya, melumpuhkan pusat-pusat perekonomian, terganggunya instalasi-instalasi vital seperti listrik, jaringan internet, ATM, dan lain-lainnya, terhambatnya sistem trasnportasi dan distribusi serta terganggunya aktifitas perkantoran baik pemerintan maupun swasta. Banjir membuat kerugian material tidak kurang dari Rp 1,5 miliar perjam, korban jiwa, serta puluhan ribu warga Jakarta mengungsi.
"Ke depan diharapkan Gubernur DKi Joko Widodo dan wakilnya, Basuki Tjahja Purnama dapat membuat emergency plan Jakarta, agar dapat mengatasi berbagai sumber potensi kebencanaan yang mungkin terjadi di Jakarta," demikian Erick.
[dem]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: