Pasalnya, kondisi atlet-atlet yang diterjunkan di pesta olahraÂga empat tahunan negara-negara Islam tersebut masih belum sepÂenuhnya siap bertanding.
"Hasil tersebut sudah sesuai perjalanan periodisasi yang direncanakan. Apalagi, kondisi fisik mereka kan baru delapan puluh lima persen," katanya.
Menurut Paulus, ada beberapa faktor yang menjadi penghalang atlet Indonesia mencapai hasil maksimal. Selain kondisi fisik atÂlet, keberadaan para juara dunia di beberapa cabang olahraga juga ikut menghambat prestasi.
"Kita harus puas dengan apa yang dicapai para atlet dari sisi perolehan medali. Perjuangan untuk merebut medali itu cukup berat. Contohnya, di cabor karate terdapat 5 juara dunia yang turun. Demikian pula di taekwondo dan judo," terangnya.
Paulus menambahkan, yang patut menjadi catatan, yakni perkembangan prestasi atlit (personal best) yang dialami di cabor renang dengan adanya pemecahan rekornas. Begitu juga pada cabang atletik, dimana Agus Prayogo bisa mencatat waktu 14:36,5 detik untuk nomor 100 M.
"Prestasi yang dibuat atlit renang dan atletik itu terjadi pada akhir periode persiapan khusus. Ini suatu prestasi yang menggembirakan karena merÂeka belum memasuki tahapan program latihan-latihan pra kompetisi," ujarnya.
Apa yang dicapai baik itu medali, kemajuan atlit (
perÂsonal best) atau kekalahan, kata Paulus, adalah materi evaluasi dan materi masukan untuk meÂnyusun rencana dan program latihan ke SEA Games Malaysia 2017 sebagai intermediate tarÂget di Asian Games Jakarta-Palembang 2018.
"Jadikan ISG sebagai ajang evaluasi untuk lebih menyemÂpurnakan persiapan menuju sasaran utama di SEA Games 2017," tandasnya. ***
BERITA TERKAIT: