Salah satunya, pemerintah Australia yang pernah melakukan intervensi terhadap federasi sepakbola di negaranya.
"Sebut saja beberapa negara seperti Brunei Darussalam, Australia, Lebanon, semua negara yang federasi sepakbolanya diintervensi, prestasinya melesat," kata Zuhairi Misrawi, anggota Tim Transisi dalam acara Ngobrol Bareng soal Kebangsaan, kemarin (Jumat, 29/8).
"Maka itu, kami akan belajar langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Australia. Bahkan, mereka mengubah secara ekstrem federasi sepakbolanya. Hasilnya sekarang mereka berprestasi. Selain itu, kami juga pelajari Jepang dan Korea," tambah pria yang menjabat sebagai koordinator kelompok kerja komunikasi Tim Transisi itu.
Zuhairi menambahkan, semestinya masyarakat Indonesia tidak perlu takut sanksi dari FIFA. Poinnya bukan soal sanksi, tapi membenahi tatakelola sepakbola.
"Saya melihat temuan Tim Sembilan, jadi merasa miris sekali. Bagaimana bisa seorang sekjen PSSI menjadi ketua PT Liga (Indonesia), banyak peraturan FIFA dan PSSI yang dilanggar. Jadi, menurut saya memang harus ada terapi yang sangat darurat dari kita semua untuk memperbaiki tatakelola," tegasnya.
Namun, Zuhairi berharap Indonesia tidak disanksi. Tapi kalau tetap disanksi, pihaknya akan bekerja keras untuk membenahi sepakbola nasional.
Di sisi lain, dalam acara diskusi tersebut memang membahas tema seputar refleksi Hari Kebangkitan Nasional serta adanya gonjang-ganjing persepakbolaan nasional dan internasional. Itu berkaitan dengan kedaulatan sebagai Bangsa yang tergabung dengan FIFA.
[rus]