Tontowi Ahmad/Liliyana NatÂsir juga gagal mempertahankan gelar yang mampu direngkuh pada 2012, 2013, dan 2014. Menghadapi Zhang Nan/Zhao Yunlei di partai final, Owi/Butet kalah dua set langsung 21-10, 21-10 dalam laga 37 menit.
Menurut pelatih ganda camÂpuran Richard Mainaky, salah satu sebab kekalahan Tontowi/Liliyana bisa jadi karena mereka terlalu menggebu-gebu dalam menghadapi final ini.
Bagi Richard, kekalahan TonÂtowi/Liliyana dalam sebuah pertandingan, terlebih melawan rival macam Zhang Nan/Zhao Yunlei adalah bagian dari sebuah kompetisi di mana ada pihak yang menang dan kalah.
Namun Richard tetap menyeÂbut bahwa performa Tontowi/Liliyana jelas berada jauh di bawah standar permainan mereka selama ini.
"Mungkin salah satu peÂnyebabnya adalah mereka terlalu menggebu-gebu dan bersemanÂgat dalam menghadapi laga final ini. Apalagi mereka dihadapkan oleh fakta bahwa mereka tingÂgal selangkah lagi meraih gelar keempat di All England," ucap Richard.
"Semangat mereka yang terÂlalu tinggi itu malah kemudian menjadi beban bagi mereka saat tampil di lapangan," katanya menambahkan.
Salah satu contoh efek dari hal itu adalah variasi serangan TonÂtowi/Liliyana yang cenderung monoton di babak final ini.
"Setiap bola ke belakang pasti selalu di-
smash, beda halnya dengan saat laga semifinal keÂmarin," kata Richard.
Di samping tekanan dalam diri Tontowi/Liliyana, kekalahan teÂlak ganda campuran nomor satu Indonesia ini pun juga lantaran keberhasilan Zhang Nan/Zhao Yunlei mendapatkan irama perÂmainan mereka sejak awal.
"Memang dibandingkan ganÂda papan atas lainnya, Zhang Nan/Zhao Yunlei inilah yang paling konsisten dan stabil perÂformanya," ucap Richard.
Hingga berita ini diturunkan, baru dua partai yang terselesaiÂkan. Di tunggal putri, andalan Spanyol Carolina Marin kemÂbali menghentak dunia setelah menjadi juara menaklukkan ungÂgulan dua Sania Nehwal 16-21, 21-14 21-7. Tahun lalu, Marin jadi juara dunia setelah sebelÂumnya berlatih keras di pelatnas PBSI Cipayung. ***
BERITA TERKAIT: