Duel terakhir dilakoninya saat mempertahankan gelar dengan petinju Afrika Selatan, Shipo Taliwe di Australia, 6 Desember 2013. Setelah itu dia hanya berlatih dan melatih di kampung halamannya, Kayong Utara, Kalimantan Barat.
“Saya mengisi kegiatan yang positif untuk remaja 17-19 tahun, beberapa dari mereka sudah ada yang berprestasi sampai mendapat penghargaan tingkat daerah,†kata Daud kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Desas-desus pertandingan mempertahankan gelar yang bakal dilalui juara tinju dunia kelas lightweight, versi International Boxing Organization (IBO) ini masih belum jelas juntrungannya.
“Belum ada berita resminya dari manajemen, jadi saya anggap belum ada kepastian.â€
Sempat beredar kabar, Daud akan menjalani duel di Cina, lagi-lagi itu pun hanya kabar burung.
Kenyataan ini sebetulnya fenomena paling tidak diharapkan. Bagi Daud ini adalah kali pertama dirasakannya selama menjadi petinju profesional.
“Biasanya tiga sampai empat bulan saya sudah bertanding lagi. Tapi ini saya terlalu lama tidak bertanding sampai delapan bulan. Ini vakum terlama sepanjang karier saya.â€
Petinju yang pernah delapan tahun berkecimpung di kelas bulu (57,1 kilogram) ini sempat mengalami pembatalan naik ring dua kali dari agenda yang dijadwalkan. Pertama mempertahankan gelarnya melawan petinju Ghana Immanuel Tagoe di Australia, 2 April 2014, tetapi batal, kemudian yang kedua pertarungan di Tiongkok melawan petinju Mongolia, Choi Tseveenpurev, 7 Juni 2014, juga batal.
Meski manajemen dari Australia yang dikomandani Craig Christian adalah pihak yang mengatur duelnya tapi petinju dengan rekor bertarung 32 kali menang ini ogah menyalahkan siapa pun. “Kita tidak bisa memaksakan apa yang menjadi keinginan kita, maka saling pengertian sajalah.â€
Demi menjaga kondisi fisik serta skill bertanding dia tetap melakukan latihan dan sparring. “Saya tetap berlatih pagi jam 07.00-09.00 WIB kalau sore dari jam 15.30-17.30 WIB.†***
BERITA TERKAIT: