Antusiasme ini mendapatkan sambutan positif dari Pembina YAD Anie Hashim Djojohadikusumo. Diharapkan dari ajang ini dapat lahir atlet bertaraf internasional.
"Itu dapat terwujud, asalkan semua petinggi negara ini memberi perhatian yang lebih maksimal," ujar Anie Hashim Djojohadikusumo, di Jakarta, Sabtu (26/4) malam.
Sebenarnya olahraga bridge bukan jenis olahraga yang baru di Indonesia. Bahkan Indonesia pernah menjadi negara yang sangat berprestasi dan disegani di kancah olahraga brige dunia. Tim merah putih mampu meraih runner up di Kejuraaan Olimpiade Bridge 1996 dan 2002.
Rencananya, lanjut Anie, turnamen ini akan digelar setiap tahun dengan harapan dapat berkembang pesat dan menjadi salah satu permainan yang digemari masyarakat Indonesia.
"Kalau hasil turnamen ini positif, kita akan gelar tiap tahun. Dan terbuka peluang kita undang pemain brigde dari negara lain untuk ikut bermain," tegasnya.
Sementara itu, Ketua YAD Hashim Djojohadikusumo berharap turnamen yang diikuti oleh sekelompok pemain bridge perempuan yang lanjut usia, dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi kaum perempuan lainnya.
Pada kesempatan itu juga ia mengungkapkan rasa keprihatinannya atas kurangnnya perhatian negara terhadap olahraga.
“DPR dan pemerintah sangat kecil perhatiannya, bukan hanya pada Bridge, tapi pada olahraga lainnya. Padahal olahraga harus diakui dapat dijadikan kebanggaan Indonesia dimata dunia internasional,†tegasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: