Demikian dikatakan Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo dalam Rapat Koordinasi Persiapan Multievent 2014 di Jakarta Jumat malam (25/4). Sebelumnya, Indonesia kalah bersaing dengan Hanoi, Vietnam dalam persaingan menjadi tuan rumah. Namun belakangan Hanoi mundur karena tidak mampu menanggung biaya penyelenggaraan yang diestimasi mencapai Rp 5,7 triliun.
Mantan Ketua Umum KONI Pusat itu menambahkan, jika ingin menjadi tuan rumah Asian Games 2019 tergantung pemerintah nanti, dan bukan di Surabaya Jawa Timur. Surabaya hanya digunakan untuk multievent Asian Youth Games.
Selain itu, perwakilan OCA akan tiba di Jakarta pada 5 Mei mendatang, untuk membahas dan melihat provinsi mana yang cocok digunakan Asian Games 2019.
Mengenai kisaran menjadi tuan rumah Asian Games yang kemarin Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo menyebutkan Rp 4 triliun, belum bisa ditentukan. Sebab, Indonesia memiliki fasilitas olahraga dan venues yang cukup baik, hanya harus membuat komplek atlet (athlete village). Komplek ini nantinya harus menempati di kawasan capital city, seperti di Bandung, Jawa Barat, yang saat ini berbenah untuk menyelenggarakan tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Athlete Village di Senayan Jakarta telah digusur untuk pembangunan Plaza Senayan dan Senayan City.
Rapat juga membahas persiapan Asian Games di Incheon Korea, dan Asian Youth Games di Nanjing Cina. Selain multievent, juga dibahas tentang penggunaan ring lima oleh KONI Pusat yang juga dijadikan sebagai AD/ART KONI Pusat.
Kepada wartawan pihaknya telah menerima surat dari Olimpic Council Asia (OCA), yang isinya bahwa pihak OCA dan IOC memperingatkan kepada pemerintah dalam hal ini Kemenpora untuk segera menyelesaikan dualisme KOI dan KONI serta penggunaan ring lima oleh KONI Pusat hasil dari rapat anggota KONI yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut Rita, jika surat dari OCA yang sudah dikirim selama 1 tahun itu belum dibalas, maka Indonesia akan menerima sanksi tegas yakni tidak bisa menjadi tuan rumah Asian Games dan multievent lainnya, serta para atletnya tidak bisa mengikuti multievent, sebelum dualisme dan penggunaan ring lima oleh KONI dirampungkan.
"Surat dari IOC dan OCA sudah mengirim selama satu tahun lebih dan belum dibahas, kenapa didiamkan saja, ini bahaya, saya sudah telepon pak Deputi untuk segera membalas, penggunaan ring lima KONI, ini bahaya sebelum Indonesia terkena sanksi,†tegas Rita.
[dem]
BERITA TERKAIT: