GP Bahrain sempat terhenti tahun lalu setelah aksi protes yang menuntut diberlakukannya pemerintahan yang lebih demokratis dan berujung pada tewasnya 35 orang warga sipil. Pihak Federasi Otomotif Internasional (FIA) sejauh ini juga belum berkeinginan untuk menghentikan balapan itu.
Grand Prix Bahrain dijadwalkan akan berlangsung akhir pekan ini. Namun, protes serta reaksi negatif warga Bahrain terhadap penyelenggaraan F1 justru semakin gencar. Banyak hal yang melatarbelakangi tuntutan boikot F1 di Bahrain.
Dilansir Independent.co, Selasa lalu, saat sirkuit dibangun, ratusan warga desa mengadakan aksi massa karena menganggap mereka jadi korban akibat kuasa kapitalis. Mereka juga diserang bahkan dilukai Kepolisian Bahrain saat mencoba mempertahankan desanya. Parahnya, penyerangan yang dilakukan polisi juga menggunakan bom serta gas air mata.
“Tidak hanya itu, hingga saat ini kepolisian Bahrain masih melakukan pengamanan yang menciptakan rasa takut di pemukiman dekat area sirkuit,†ujar Yousif Al Muhafda, juru bicara Bahrain Center of Human Rights.
Kondisi ini juga ditanggapi bekas juara dunia F1, Damon Hill. “Kami ingin menikmati F1, banyak hal positif yang bisa diambil dari balapan. Jadi berhentilah menyerang sesama. Saya tidak akan berangkat ke Bahrain jika warga Bahrain masih diperlakukan dengan buruk.â€
Sementara itu, isu pelanggaran HAM juga membuat beberapa sponsor menarik kembali kerjasama mereka. Vodafone misalnya, mereka mencabut kembali sponsorship GP Bahrain setelah mengetahui apa yang terjadi di sana. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: