Wakil Ketua Komisi X DPR Rully Chairul Azwar menegaskan, keputusan Agum yang tetap tidak menerima Toisutta dan Panigoro adalah keputusan yang paling tepat. Dengan keputusan tersebut, Indonesia bisa terbebas dari bayang-bayang sanksi FIFA.
â€Karena itu, DPR siap mendukung penuh keputusan tersebut. Kita siap berada di depan Pak Agum untuk membela keputusan dari pihak yang tidak senang,†kata Rully kepada
Rakyat Merdeka Online, Sabtu malam (14/5).
Rabu depan (18/5), lanjut Rully, Komisi X akan melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dangan Menpora. Dalam rapat ini, DPR akan menegaskan dukungan terhadap keputusan Komite Normalisasi. DPR juga akan meminta ke pemerintah untuk mendukung keputusan itu.
Rully menambahkan, DPR sudah lelah mendengar konflik PSSI yang berkepanjangan. Makanya, begitu langkah yang baik, DPR tidak mau kehilangan momen untuk ikut menyelesaikan konflik yang terjadi.
â€Kita tidak ingin sepak bola kita terus dirundung masalah. Keputusan Pak Agum telah menjadi solusi terbaik untuk perbaikan sepak bola kita. Makanya, kita sangat mendukung itu dan menyerukan semua pihak untuk ikut mendukungnya,†tandas Rully.
Anggota Komisi X dari PDIP Dedi â€Miing†Gumelar mengaku jengkel dengan ulah kelompok 78 yang terus memaksakan kehendak mau mencalonkan Toisutta dan Panigoro. Padahal, jelas-jelas dua orang ini sudah dilarang oleh FIFA untuk maju.
Dia memperkirakan, saat ini kelompok 78 masih berusaha untuk merecoki kongres yang mengganggu keputusan Agum. â€Karena itu, kita tidak akan tinggal diam. Kita akan bela Agum dari serangan kelompok ini,†janjinya.
Miing menegaskan, selama ini kelompok 78 mengaku kaum reformis, padahal sebenarnya tidak. “Kata siapa mereka reformis. Mereka itu dulunya anak buah Nurdin. Kalau memang reformis, harusnya pada 2007 mereka menggelar kongres luar biasa karena saat itu Nurdin di penjara. Tapi kan saat itu mereka diam saja. Kok seperti ini mau disebut sebagai reformis,†tukasnya.
Untuk membuktikan dukungannya pada Komite Normalisasi, Miing mengaku siap untuk berdiri di jajaran paling depan kalau ada pihak yang kembali mempermasalahkan keputusan Sehingga pelaksanaan kongres bisa berjalan lancar tanpa ada yang mengganggu.
Khusus untuk kelompok 78, Miing berharap mereka tidak berulah lagi. Sebab, kalau kongres 20 Mei sampai gagal, yang rugi bukan hanya pemain sepak bola dan pengurus PSSI, tapi semua rakyat Indonesia.
â€Kalau FIFA sampai menjatuhkan sanksi, bukan sepak bola kita saja yang dilarang ikut dalam event internasional. Kita juga dilarang berhubungan dengan negara lain terkait sepak bola. Bahkan, kita juga bisa dilarang mendapatkan siaran sepak bola internasional. Jadi, kerugiannya sangat besar,†tandasnya.
[arp]
BERITA TERKAIT: