Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

FIFA Pasti Pertimbangkan Keinginan Publik

Jumat, 04 Maret 2011, 01:10 WIB
FIFA Pasti Pertimbangkan Keinginan Publik
Fédération Internationale de Football Association (FIFA)
RMOL. Nurdin Halid boleh saja ber­si­keras mencalonkan diri men­jadi ketua umum PSSI periode 2011-2015, namun upaya dia un­tuk mempertahankan posisinya ka­li ketiga itu sepertinya akan me­nemui jalan buntu. Sebab 84 ang­gota PSSI pemilik suara men­ca­but mandat yang se­be­lumnya diberikan untuk peng­u­rus periode 2007-2011 tersebut.

Keputusan mengejutkan itu di­tunjukkan melalui mosi tidak per­caya kepada Ketum, Wa­ke­tum, dan anggota Komite Ek­sekutif (Exco) PSSI beberapa ha­ri yang lalu (28/2). Untuk meng­isi kekosongan kepengurusan, 84 pemilik suara membentuk Ko­mite Penyelamatan Sepak Bo­la Indonesia (KPSI). Salah sa­tu tugas KPSI adalah mem­ben­tuk Komite Pemilihan dan me­nye­lenggarakan Kongres Luar Bia­sa untuk memilih ketua umum, wakil ketua umum dan ang­gota komite eksekutif PSSI periode 2011-2015. KPSI yang di­pimpin oleh Sukawi J Sutarip diberi tenggang waktu paling lambat hingga April 2011 untuk me­wujudkan kegiatan tersebut.

Kongres Luar Biasa harus di­gelar paling lambat 60 hari dari se­karang. Keinginan Nurdin Ha­lid menunda kongres bisa jadi sebagai upaya akal-akalan saja, supaya status quo bertahan satu hingga dua tahun lagi.

 Karenanya, segeralah lakukan Kong­res Luar Biasa. Kalau di­biarkan berlama-lama, dengan da­lih kirim surat ke FIFA dan me­nunggu jawaban dari FIFA, itu sama artinya masuk dalam per­mainan pendukung Nurdin. Bu­kan tidak mungkin, diam-diam Nurdin Cs ‘main mata’ deng­an FIFA tanpa kita menya­da­rinya. Walhasil yang rugi ada­lah nasib prestasi sepakbola nasional karena tersandera oleh permainan politik.

Padahal disisi lain, sejumlah figur telah siap mengembalikan ruh sepak bola nasional ke ting­kat yang lebih tinggi. Misalnya, Kasad Jenderal George Toisutta. Dia sangat pantas menjadi Ketua Umum PSSI. Visi dan misinya jelas berorientasi kepada pres­tasi, bukan kepada “pe­ngem­bang­an bisnis” yang minim pres­tasi.

Toisutta juga bukanlah orang ba­ru di dunia sepakbola. Ia lebih dari lima tahun aktif di or­ga­ni­sa­si sepakbola. Cukup banyak buk­ti yang menguatkan George Toisutta sebagai figur yang me­naruh perhatian besar pada ak­ti­vitas sepakbola.  

Dalam bukti itu jelas di­se­but­kan  bahwa PS Bara Siliwangi (di­mana Toisutta menjadi peng­u­rusnya) merupakan anggota Peng­cab PSSI Kota Bandung. Su­rat rekomendasi Pengcab PSSI Kabupaten Bandung No­mor 16/KU PSSI-Kab.Bdg/II-2-11 tanggal 4 Februari 2011 juga membenarkan bahwa George Toisutta adalah Wakil Ketua Umum PS Bandung Raya sejak 2005. PS Bandung Raya tak lain anggota biasa PSSI dan anggota PSSI Jabar di zona Divisi III.

Oleh karena itu, sangatlah wajar jika pengurus daerah PSSI se-Indonesia yang memiliki hak suara memberikan kesempatan pada dia untuk mencalonkan diri menjadi ketua umum.

Keberanian 84 pemilik suara un­tuk menggelar kongres luar biasa patut diapresiasi karena keinginan terhadap perubahan ke arah yang lebih baik adalah hal logis. Apalagi, berdasarkan Sta­tuta PSSI Pasal 31 perihal Kong­res Luar Biasa ayat 2, anggota PSSI memang berhak meminta se­cara tertulis penyelenggaraan Kongres Luar Biasa.

FIFA pasti akan mem­per­tim­bang­kan keinginan pemilik suara PSSI. Sebab, aturan sepakbola inter­nasional tidak berlangsung da­lam ruang vakum. Pe­ne­ra­pannya tentu terkait dengan kon­teks dan aturan di negara ber­sang­kutan. Bravo Sepakbola Indonesia!

Penulis adalah Ketua Umum Aliansi Nasionalis Religus (ANR) dan Pemerhati Sepakbola Nasional.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA