Ia mengembuskan napas terakhir pada usia 86 tahun setelah merintis bisnis kuliner yang dikenal luas masyarakat Indonesia.
"Dengan penuh duka, kami sekeluarga mengabarkan bahwa telah berpulang ke rahmatullah Ibunda dan Eyang tercinta, Hj. Suharti," demikian pernyataan resmi keluarga lewat Instagram resmi Ayam Goreng Suharti, @ayamgorengsuhartiofficial, pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Keluarga juga memohon doa agar almarhumah mendapat ampunan, diterima amal ibadahnya, serta ditempatkan di surga.
Perjalanan bisnis Suharti dimulai sekitar 1956, ketika ia berusia 26 tahun. Saat itu, ia menjajakan ayam goreng menggunakan sepeda tua dengan membawa bakul besar, berkeliling dari Yogyakarta hingga Surakarta.
Dalam merintis usaha tersebut, Suharti dibantu ayahnya dan mengandalkan keterampilan memasak yang dipelajari dari rumah makan keluarganya. Ia juga memiliki hubungan keluarga dengan Mbok Berek, sosok yang dikenal dalam sejarah bisnis ayam goreng khas Yogyakarta.
Setelah menikah dengan Syahlan pada 1961, usaha mereka berkembang. Pada 1968, keduanya membeli tanah seluas sekitar 900 meter persegi di Maguwoharjo, Yogyakarta, yang kemudian digunakan untuk membangun rumah makan.
Rumah makan tersebut mulai beroperasi sekitar 1972 dengan nama Ayam Goreng Mbok Berek. Namun, Suharti kemudian memilih menggunakan namanya sendiri sebagai identitas bisnis.
Perjalanan usaha itu sempat mengalami perpecahan seiring berakhirnya rumah tangga Suharti dan Syahlan. Keduanya kemudian mengelola merek berbeda, yakni Ayam Goreng Suharti dan Ayam Goreng Ny. Suharti.
Pada 1992, Suharti memperoleh hak atas nama usaha Rumah Makan Ayam Goreng Suharti. Salah satu identitas yang melekat pada merek tersebut adalah logo bergambar wajah Suharti sendiri, yang dipilih untuk membedakan usahanya dari merek lain.
Jenazah Hj. Suharti disemayamkan di RM Ayam Goreng Suharti, Jalan Laksda Adisucipto Nomor 208, Yogyakarta. Pemakaman dijadwalkan pada Sabtu pukul 14.00 WIB di Makam Keluarga Candisari, Bendan, Tirtomartani, Kalasan.
BERITA TERKAIT: