Jumlah ini menunjukkan peningkatan yang tinggi dalam waktu beberapa hari terakhir. Petugas pengamat Gunung Merapi, Suratno dalam laporannya menyampaikan bahwa guguran lava tersebut mengarah ke sektor barat daya.
Sektor ini meliputi hulu Kali Sat, Kali Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum material lava pijar tersebut mencapai 2.000 meter dari puncak kawah.
Secara keseluruhan, sistem kegempaan Merapi menunjukkan intensitas guguran yang tergolong tinggi. Petugas juga mendeteksi 68 kali gempa guguran.
Gempa tersebut memiliki amplitudo 2 hingga 33 milimeter dengan durasi bervariasi antara 29,12 hingga 199,93 detik.
Sementara itu Yulianto, petugas BPPTKG lain menyebutkan bahwa selain guguran lava, aktivitas pembentukan dan penekanan magma baru masih terjadi di dalam kawah. Hal ini ditandai dengan munculnya 59 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dalam durasi 24 jam.
Data pemantauan ini menegaskan bahwa suplai magma dari kedalaman Gunung Merapi masih terus berlangsung. Aktivitas internal tersebut sewaktu-waktu dapat memicu munculnya awan panas guguran.
"Saat ini status Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga," kata Yulianto dalam laporannya, dikutip dari
RMOLJateng.
Masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan bencana diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sepanjang alur sungai yang berpotensi terjangkau guguran.
Warga juga perlu mewaspadai ancaman lahar hujan, terutama saat curah hujan mulai meningkat di area puncak Gunung Merapi.
BERITA TERKAIT: