Langkah tersebut sejalan dengan target pemerintah dalam menurunkan prevalensi stunting nasional menjadi 18,8 persen pada tahun 2025 dan 14,2 persen pada tahun 2029.
Hal ini menjadi materi saat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menyelenggarakan kegiatan Mitra OTAFest GENTING 2026 di The Phoenix Hotel Yogyakarta pada Jumat 26 Juni 2026.
"Program GENTING hadir sebagai gerakan gotong royong bagi keluarga berisiko stunting," kata Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Wahyuniati, dikutip Senin 29 Juni 2026.
Wahyuniati juga menyoroti peran strategis para petugas di lapangan dalam menjangkau keluarga sasaran. Ia menilai para penyuluh KB (Keluarga Berencana) dan Kader TPK (Tim Pendamping Keluarga) memiliki peran krusial sebagai garda terdepan.
"Tugas mereka tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memastikan distribusi bantuan gizi (delivered) sampai ke tangan ibu hamil atau keluarga sasaran dengan cepat dan tepat, terutama di daerah-daerah terpencil atau wilayah yang sulit dijangkau," kata Wahyuniati.
Untuk itu Wahyuniati menekankan bahwa penanganan stunting harus dilakukan melalui kolaborasi pentahelix yang solid.
"Dengan menjadi orang tua asuh, setiap individu memiliki kesempatan untuk berkontribusi nyata dalam menyiapkan generasi emas 2045 bagi 1 juta anak Indonesia," pungkas Wahyuniati.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: