Perburuan Ikan Sapu-Sapu: Kebijakan Aman secara Politik, Tinggi Nilai Pencitraan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widodo-bogiarto-1'>WIDODO BOGIARTO</a>
LAPORAN: WIDODO BOGIARTO
  • Sabtu, 18 April 2026, 13:38 WIB
Perburuan Ikan Sapu-Sapu: Kebijakan Aman secara Politik, Tinggi Nilai Pencitraan
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. (Foto: PPID DKI Jakarta)
rmol news logo Rakyat Jakarta kembali dipertontonkan dengan pola lama, yakni kebijakan yang aman secara politik, rendah resistensi, dan tinggi nilai pencitraan.

"Seperti perburuan ikan sapu-sapu yang secara visual menarik dan mudah dikemas dalam narasi “sebelum-sesudah”. Menjadi simbol pendekatan dangkal dalam mengelola kota sebesar Jakarta," kata Kepala Bakomstrada DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Taufik Tope Rendusara dalam keterangannya, Sabtu 18 April 2026.

Menurut Taufik, alih-alih menyentuh akar persoalan, arah kebijakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung justru terjebak pada isu-isu yang tidak menimbulkan konflik besar, tetapi juga tidak menyelesaikan masalah struktural.

"Pemberantasan ikan sapu-sapu adalah politik zona nyaman, minim risiko, minim dampak," kata Taufik.

Sementara itu, realitas di lapangan berbicara sebaliknya. Seperti Kemacetan semakin parah tanpa terobosan signifikan dalam transportasi publik terintegrasi.

Belum lagi banjir bukan lagi ancaman musiman, tapi sudah menjadi “anggota tetap” kehidupan warga.

Selanjutnya polusi udara terus menempatkan Jakarta dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk.

"Paling menyakitkan adalah anak-anak dari keluarga miskin masih terhalang akses menuju pendidikan tinggi," kata Taufik.

Di tengah kompleksitas ini, publik justru disuguhi kebijakan yang lebih mudah difoto daripada dirasakan dampaknya.

"Ini bukan soal kerja atau tidak kerja. Ini soal keberanian memilih prioritas," kata Taufik.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA