Batagor Jadi Gorengan Terbaik Versi Taste Atlas, Ini Sejarahnya

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/tifani-5'>TIFANI</a>
OLEH: TIFANI
  • Kamis, 09 April 2026, 18:50 WIB
Batagor Jadi Gorengan Terbaik Versi Taste Atlas, Ini Sejarahnya
Ilustrasi Batagor (Sumber: Gemini Generated Image)
rmol news logo Batagor menduduki peringkat pertama daftar gorengan terbaik dari Asia Tenggara menurut Taste Atlas yang diperbarui pada 15 Maret 2026. Jajanan khas bandung, Jawa Barat (Jabar) mendapatkan rating 4,4 di situs ensiklopedia kuliner tersebut.

Perlu diketahu, Taste Atlas merupakan ensiklopedia kuliner yang berisi berbagai hidangan, rasa, bahan, bumbu, serta berbagai hal seputar makanan lainnya dari seluruh dunia. Peringkat tersebut didasarkan pada penilaian dari audiens Taste Atlas, dengan serangkaian mekanisme yang mengenali pengguna asli dan mengabaikan penilaian dari bot serta nasionalis atau patriotik lokal.

Mengutip laman Taste Atlas, batagor merupakan hidangan pangsit ikan goreng asal Bandung, Jawa Barat itu disajikan dengan saus pedas tradisional. Ikan yang paling umum digunakan untuk membuat makanan ini adalah tenggiri, tuna, makerel, dan bahkan udang.

Setelah digoreng, batagor akan disajikan di tempat yang biasanya dilengkapi dengan kentang, tahu, dan kubis. Makanan ini umumnya dijual oleh pedagang kaki lima, dikarenakan cara pembuatannya cepat dilakukan.

Beberapa warung atau resto batagor di Bandung yang direkomendasikan Taste Atlas, antara lain Batagor Kingsley, Batagor Abuy, Batagor Darto, Batagor Yunus, Batagor Riri Bandung, Batagor Burangrang, Batagor Haji Ihsan, dan Batagor Riasari. Batagor mengalahkan hidangan asal Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, serta Filipina.

Sebelumnya, Taste Atlas juga memasukkan batagor sebagai sebagai jajanan paling lezat se-Asia pada tahun 2021 lalu.

Sejarah Batagor


Asal-usul batagor bisa dilacak sejak 1970-an. Dilansir dari buku Laris Manis Bisnis Gerobak karya Agus Nurcahyo, batagor pertama kali dibuat oleh seorang penjual bakso tahu atau siomay keliling yang mengolah barang jualannya yang tidak laku, bernama Isan. 

Awalnya untuk mengisi waktu luangnya setelah kesulitan mencari pekerjaan di Bandung, Isan memutuskan untuk ikut berjualan bakso tahu keliling. Usaha barunya ini dimulai di rumah kontrakannya di gang Situ Saeur Bandung.

Sebagai tukang bakso keliling, Isan harus dihadapkan pada masalah dagangannya yang tidak habis. Agar tidak membuang dagangannya yang masih tersisa, akhirnya Isan berfikir untuk menggoreng bakso tahu kukusnya.

Digoreng hingga kecokelatan, baso tahu itu diberi kondimen berupa saus kacang yang biasa melengkapi baso tahu. Tekstur baso tahu yang garing di luar dan kenyal di dalam disertai aroma ikan tenggiri yang semerbak setelah digoreng membuat cita rasa batagor yang khas. 

Selama bertahun-tahun, Isan memberikan batagor secara gratis kepada tetangganya. Para tetangga mulai ketagihan bakso gorengnya. Melihat antusiasme tersebut, Isan mulai mencoba menjajakan bakso tahu yang telah digoreng bersama bakso tahu yang biasa ia jual.

Di luar perkiraannya, peminat batagor mulai kian banyak, bahkan batagor lebih laku dari bakso tahu. Akhirnya, pada 1968, Isan mulai membuat dan memasarkan bakso tahu goreng atau batagor. 

Meski awalnya batagor diolah dalam dua tahap, mengukus kemudian menggorengnya. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengoreng langsung adonan yang mentah dan lebih banyak mengembangkan bakso tahu yang digoreng.rmol news logo article


EDITOR: TIFANI

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA