Hujan Tarigan Kisahkan Ketangguhan Masyarakat Karo dalam Film Perik Sidua-dua

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-kiflan-wakik-1'>AHMAD KIFLAN WAKIK</a>
LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK
  • Senin, 10 Oktober 2022, 17:27 WIB
Hujan Tarigan Kisahkan Ketangguhan Masyarakat Karo dalam  Film Perik Sidua-dua
Konferensi pers pra produksi film Perik Sidua-dua/Ist
rmol news logo Ketangguhan masyarakat Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dalam menjaga geliat ekonomi di tengah bayang-bayang erupsi Gunung Sinabung menjadi sisi lain yang harus diketahui khalayak. Belum lagi, masalah sosial seperti ancaman hama pertanian dan eksistensi kartel.

Keinginan mengangkat kisah itu, menjadi latar Hujan Tarigan menulis satu cerita tentang kehidupan di Karo. Naskah ini, nantinya akan divisualkan dalam sebuah film layar lebar dengan judul "Perik Sidua-dua".

Judul film "Perik Sidua-dua" diangkat dari judul lagu yang diciptakan Rahmatsys Barus.

Kata Hujan Tarigan, ada romansa cinta dari naskah film yang dia tulis, sama seperti kisah lagu aslinya. Tepatnya, bagaimana seorang anak perempuan yang berjuang membangkitkan perekonomian di tengah paceklik, kemudian terhadap munculnya wabah Covid-19.

"Di saat tokoh utama dan warga lainnya sedang membangun mimpi baru, datang Covid yang membuyarkan semua mimpi-mimpi. Padahal di sisi lain, tokoh utama itu sudah berhasil menerobos ketabuan adat, tentang perempuan karo yang tak memiliki catatan menjadi seorang pemandu wisata," ujar Hujan dalam jumpa pers di Ballroom Hotel 3 Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Minggu (9/10).

Dijelaskan Hujan, film ini nantinya akan mengambil latar lokasi di beberapa tempat di Kabupaten Karo. Drama kehidupan pada film, akan dibungkus dengan gambar-gambar indah dari panorama serta objek wisata yang tersebar di sepanjang dataran tinggi Karo dan tepian Danau Toba di Tongging.

Ditambahkan produser film Perik Sidua-dua Benson Kaban, setidaknya ada sekitar 17 destinasi wisata di Kabupaten Karo, menjadi latar belakang lokasi pengambilan gambar.

"Salah satunya tentu Kota Wisata Berastagi, yang hanya memiliki jarak 30-an km dengan Gardu Pandang Tongging, yang digunakan sebagai posko utama produksi film layar lebar tersebut," terangnya.

Film ini, lanjutnya, diperhitungkan akan menelan biaya Rp 1 miliar dan secara resmi akan diproduksi oleh PT Agro Gegeh Persada, sebuah platform perusahaan yang berkonsentrasi mengembangkan pertanian dan pariwisata.

Kata Benson lagi, casting pemain film akan berlangsung selama 10 hari, dari tanggal 11 hingga 21 Desember 2022. Dilaksanakan di tiga wilayah, Medan, Binjai, Kabanjahe dan Tongging.

"Sedangkan proses pendaftaran akan dimulai sejak 10 Oktober 2022 hingga 10 Desember 2022," demikian Benson. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA