Pengantar buku ditulis oleh Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital RI, serta komentar dari Prof. Dr. Seto Mulyadi, pakar psikologi pendidikan anak.
Kehadiran Alya, menambah deretan sedikit nama penulis buku cilik, dan membuka kembali fakta akan masih rendahnya tingkat literasi di masyarakat Indonesia.
Menurut data UNESCO (2020), Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal tingkat literasi dunia. Angka minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, artinya hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang gemar membaca.
Rendahnya tingkat kegemaran membaca dan menulis (TGMM) masyarakat, dipaparkan Seto Mulyadi, setidaknya lima faktor penyebab kondisi ini.
"Pertama, minat membaca pada anak masih rendah akibat minimnya keteladanan dan dorongan dari orang tua," kata Kak Seto dalam peluncuran buku Alya Sidik di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Selasa 9 Juni 2026.
Kedua, kata dia, literasi digital yang pasif, dimana perilaku membaca pada anak bergeser ke media digital yang cenderung bersifat instan dan kurang melatih kemampuan berpikir kritis.
Ketiga, menulis masih dianggap beban akademis, sebatas menyelesaikan tugas sekolah sehingga kreativitas dan kemampuan menuangkan ide secara bebas tidak terasah.
Keempat, akses buku tidak merata dengan kesenjangan besar di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
"Kelima, kurangnya peran keluarga dimana membaca belum menjadi kebiasaan sehari-hari di keluarga, dan lingkungan sekitarnya," tutur Kak Seto.
Pandangan Kak Seto ini diamini oleh Gregoria Ira, Vice Principal pada Delima School, Jakarta. Menurutnya, kurikulum sekolah dan buku teks belum mampu menumbuh-kembangkan budaya baca dan menulis pada siswa.
"Padahal anak yang terbiasa membaca dan menulis cenderung lebih mudah menyerap materi pelajaran apapun. Membaca dan menulis adalah fondasi paling krusial dalam perkembangan anak," demikian Ira.
BERITA TERKAIT: