Terlebih mereka telah kecewa dengan sikap PT Pertamina dan PT Patra Niaga yang tidak hadir dalam rapat bersama di PT Garda Utama Nasional (GUN), di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis pagi (24/1).
Saat rapat, Pihak Pertamina dan Patra Niaga hanya mewakilkan PT GUN, perusahaan vendor (perusahaan outsourcing/penyedia jasa tenaga kerja) angkutan bagi bahan bakar minyak (BBM) Patra Niaga anak perusahaan Pertamina. Padahal rapat itu turut dihadiri perwakilan dari pihak Suku Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Sekretariat Negara dan AMT.
Obor sempat dinyalakan dan sempat menggelar aksi di depan gerbang Depo Plumpang. Namun kemudian, obor dimatikan lantaran ada pertemuan yang difasilitasi Kantor Staf Presiden (KSP) dengan semua pihak terkait di kantor KSP, Jakarta Pusat.
Ratusan massa AMT saat ini sedang ada di posko aksi di Plumpang, Jakarta Utara. Jumlahnya, kian terus bertambah banyak.
Mereka juga telah menyiapkan obor belasan karung di posko yang hanya berjarak 200 meter dari gerbang Depo Plumpang.
"Kalau kami di sini tidak ada pilihan lain, kecuali menang apapun itu resikonya," ujar Daryono salah satu perwakilan Supir AMT di Plumpang, Jakarta Utara, Kamis (24/1).
Ada empat tuntutan yang ingin disampaikan para awal mobil tangki. Pertama, bayarkan upah lembur yang belum dibayarkan sesuai nota sudinaker dan Kementerian Ketenagakerjaan dan upah proses selama di-PHK. Kedua, pekerjakan kembali 1.095 AMT yang di-PHK massal dan secara sepihak.
Ketiga, angkat kami sebagai karyawan tetap di PT. Pertamina Patra Niaga dan PT. Elnusa Petrofin, sesuai dengan nota sudinaker yang sudah disahkan oleh pengadilan. Sementara tuntutan dibayarkan hak pensiun bagi pekerja yang lanjut usia sesuai perundang-undangan yang berlaku.
[ian]
BERITA TERKAIT: