Tidak tanggung-tanggung, Kepala Pusat Informasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menyebut bahwa alat itu dipasang di 6 titik.
"Ada 6 sensor. Di Sumatera ada 3, di Jawa ada 3. Total ada 6. Milik BMKG yang ada di Selat Sunda," katanya saat konferensi pers di gedung BMKG, Jakarta Pusat, Selasa (25/12) malam.
Rahmat kemudian menguraikan cara kerja sensor tersebut. Menurutnya, sensor yang bergetar akan memberikan alarm kepada BMKG. Sementara untuk mengetahui lokasi getaran dibutuhkan 3 sensor yang bergetar.
“Minimal 3 dari 6 sensor kita bisa mengetahui dimana posisi sumber getatan itu tadi. Apalagi kalau enam-enamnya mencatat, maka akan lebih akurat lagi sumber getaran tadi," paparnya.
Rahmat menambahkan, jika getaran yang dicatat mencapai 3,4 skala richter, maka BMKG akan memberikan
warning peringatan dini tsunami.
"Belajar dari kemarin, kalau getarannya mencapai 3,4 Magnitudo atau 3,5 Mg ke atas BMKG akan memberikan warning untuk Selat Sunda," jelasnya.
Setelah peringatan, kurang lebih sekitar 1 jam kemudian jika tidak ada air laut masuk atau tsunami, maka BMKG akan segera mengakhirinya.
"Kami berharap ini tidak jadi kepanikan baru, karena paling tidak kita jangan sampai kecolongan seperti kemarin," tandasnya.
[ian]