Misalnya saja, pemasangan pohon palsu, jalur pejalan kaki di Jalan Sudirman-Thamrin, mengubah jembatan penyeberangan orang menjadi pelican crossing, dan yang terkini mengecat sepaÂrator dengan warna-warni.
Memang kebijakan-kebijakan Pemprov DKI yang diprotes itu, langsung diikuti seperti keÂinginan pemerotes. Masalahnya adalah dari sisi anggaran, terjadi pemborosan.
Melihat hal itu, warga IbuÂkota mempertanyakan, apa tidak dikaji dulu sebelum diterapkan kebijakan itu? Apa gunanya banyak Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kalau begitu? Apa juga gunanya Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) yang digaji besar?
"Buat apa banyak tim kalau sering kali kebijakan diprotes. Setelah itu diubah lagi, dan diubah lagi. Kudu dikaji dulu, baru diterapin deh," keluh Perdananta, warga Jakarta Timur, yang disampaikan kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Kasus terbaru, misalnya, mengecat warna-warni separator dan tepian trotoar di sejumlah wilayah Ibukota. Niatnya bikin indah, tapi sayang ini menyalahi aturan. Setelah itu, dicat lagi menjadi hitam putih.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membenarkan pihaknya mengembalikan warna pembatas jalan yang dicat warÂna-warni menjadi hitam-putih. Sebab, ada aturan soal warna untuk kepentingan keamanan.
"Ada ketentuan-ketentuan mengenai marka-marka jalan. Asisten Pembangunan menjelasÂkan bahwa ketentuan tentang marka jalan penting untuk ditaati karena memiliki fungsi tidak hanya untuk estetika, tapi juga untuk safety," ucap Anies.
Menurut Anies, separator jalan warna-warni merupakan bagian dari persiapan Pemprov DKI Jakarta menyambut Asian Games 2018. NaÂmun, setelah mendapat penjelasan dari kepolisian, separator yang dicat warna-warni itu dihapus dan dikemÂbalikan catnya hitam putih.
"Kalau yang terkait lalu lintas itu sudah ada aturannya, ada ketentuanya, ada tata caranya karena itu menyangkut keselaÂmatan. Tidak hanya untuk esteÂtika," ujar Anies.
Sebelumnya Direktorat LaluÂlintas Polda Metro Jaya Kombes Yusuf langsung menegur langÂkah Pemprov DKI Jakarta memÂpercantik pembatas jalan dengan cat warna-warni.
Boleh saja membuat cantik tata kota menyambut Asian Games. Pihaknya mengaku sudah menerima surat pemberitahuan dari Pemprov DKI mengenai pengecatan sejumlah separator dan beberapa tembok di Jakarta untuk menyambut Asian Games 2018. Namun, pengecatan warna-warni ini harus dihapus setelah penyelenggaraan Asian Games.
"Kalau untuk Asian Games itu waktu Asian Games saja, mungkin diperbolehkan, tetapi temporary itu ada batas waktu tertentu, selesai itu ya dikembalikan, itu tanda saja kalau itu kegiatan Asian Games," katanya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan.
Diingatkannya, sesuai aturan, marka jalan seperti pembatas jalan wajib terdiri dari dua warna, hitam dan putih. Memodifikasi dengan warna lain pada setiap marka dan tanda jalan, tidak boleh sembarang dilakukan.
Yusuf mencontohkan marka yang tidak boleh diutak-atik seperti jalur busway, pembatas jalan, yellow box junction di setiap persimpangan lampu merah. Masing-masing marka menggunakan warna berbeda.
Seperti diketahui, separator jalan di sejumlah lokasi di Jakarta dicat warna-warni menjelang perheÂlatan Asian Games 2018. Antara lain di Jalan Warung Jati Barat, Jakarta Selatan, dan di Jalan Raya Mabes Hankam, dekat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) arah Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Di perempatan Pejaten VilÂlage di dekat Halte Transjakarta Pejaten Philips hingga sebelum Halte Transjakarta Buncit Indah juga dicat warna-warni.
Sebagian besar sudah kembali ke waran semula. Seperti di sepaÂnjang jalan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Separator tampak kembali ke warna awalnya yakni hitam dan putih. Cat warna-warni sudah ditÂimpa dengan warna hitam-putih seperti separator pada umumnya.
Ketua Fraksi PDI Perjuangam DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono menilai, ada unsur pemÂborosan karena setelah dicat warna-warni, separator jalan dan sisi pingÂgir trotoar akhirnya dikembalikan ke warna semula, hitam putih.
"Mau pakai dana apa pun, separator jalan warna-warni tetap pemborosan, kan," ujar Gembong di Jakarta.
Program dan perencanaan Pemprov DKI Jakarta dinilainya kurang cermat dalam menyeÂmarakkan Asian Games 2018. Faktor keamanan diabaikan saat memutuskan memperbolehlan mengecat warna-warni marka jalan ini. ***
BERITA TERKAIT: