Ustadz Taufik Dan Simbiosis Mutualisme Ulama-Umara

Selasa, 03 Juli 2018, 09:31 WIB
Ustadz Taufik Dan Simbiosis Mutualisme Ulama-Umara
Al Habib Al Ustadz Taufik Bin Abdul Qodir Assegaf/Dok
TIDAK mudah bertemu dengan Al Habib Al Ustadz Taufik bin Abdul Qodir Assegaf karena kesibukan beliau berdakwah.

Tidak jarang orang yang ingin bertemu secara khusus dengan beliau harus menunggu berhari-berhari. Beruntung setelah tiga hari, saya akhirnya Senin pagi 1 Juli 2018, bisa bertemu dengan Al Ustadz Taufik Assegaf untuk memasukkan keponakan ke pesantren beliau yang terletak di kota Pasuruan, Jawa Timur.

Memang tidak mudah untuk masuk ke pesantren yang dikelola Ustadz Taufik. Beliau tidak ingin pesantren dikesankan tempat anak buangan. Karena itu, beliau seleksi langsung semua anak yang masuk pesantren. Bahkan Ustadz terkadang ingin menemui kedua orang tuanya atau walinya sehingga beliau tahu latar belakang anak yang didiknya.

Bila dibandingkan dengan pesantren-pesantren di sekitar Pasuruan,  mungkin pesantren yang dikelola Ust Taufik tidak terlalu besar dan jumlah santrinya pun tidak sebanyak pesantren lainnya. Karena itu, para wali murid lebih tertarik memasukkan terlebih dahulu ke pesantren Ust Taufik. Bila tidak diterima, wali murid baru pikirkan alternatif pesantren lainnya.

Al Habib Al Ustadz Taufik Bin Abdul Qodir Assegaf adalah seorang habib sekaligus ustadz. Tidak semua habib itu ustadz. Disebut Habib karena memang beliau adalah seorang yang mempunyai garis keturunan dengan Rasulullah SAW. Dikatakan Ustadz karena beliau memang seorang guru mumpuni yang mendidik santri-santrinya secara serius. Karena itu, Ustadz Taufik punya nilai plus, yaitu selain ia seorang habib, beliau juga seorang ustadz.

Mendapat gelar ustadz di kota santri seperti di kota Pasuruan, Jawa Timur, tidak lah mudah. Menurut data yang diterima ada sekitar 321 pesantren di Pasuruan yang rata-rata santrinya berjumlah ratusan hingga ribuan. Salah satunya adalah pesantren Sunniyah Salafiyah yang dikelola oleh Ustadz Taufik.

Dari sisi nama pesantren dapat dipahami bahwa Ustadz Taufik ingin mengembalikan pengertian salafiyah ke khittah sebenarnya. Apalagi selama ini makna salafiyah dikesankan jauh dari tradisi Islam yang dibangun para leluhur dan ulama terdahulu seperti pembacaan Maulid Nabi SAW, Ratib, Burdah dan lain-lainnya. Ada upaya mafhum salaf digeser ke hal-hal yang mengatasnamakan bid´ah dan menjauhkan tradisi kebaikan para leluhur dan ulama terdahalu.

Karena itu, Ustadz melawan imej salaf tersebut dan meluruskannya pada pemahaman yang sebenarnya. Saat ini, Ustadz Taufik termasuk habaib dan ulama yang menjadi rujukan salaf di nusantara. Ustadz tidak hanya mengembalikan tradisi salaf di kalangan santri, tapi juga di lingkungan sekitar di luar pesantren.

Di antara tradisi salaf yang dihidupkan kembali Ustadz Taufik adalah tradisi Rohah. Rohah itu juga bisa diartikan rehat dalam bahasa Indonesia. Tapi istilah Rohah yang dimaksud dalam tradisi salaf adalah membaca kitab secara bersama dan bergiliran.

Mereka membaca kitab dengan santai. Saat membaca teks kitab, audiens terkadang senyum dan terkadang juga tampak sedih dan sesekali muncul kalimat istighfar. Berbagai reaksi muncul  tanpa paksaan ( baca rehat) dalam tradisi Rohah.

Suasana rohah yang penuh keakraban dan sarat spritual seperti ini jarang ditemukan di kota-kota lain. Mungkin hanya beberapa kota yang tersisa seperti Pekalongan di Masjid Raudhoh, Pekalongan.

Kembali pada figur Ustadz Taufik. Tak dapat dipungkiri bahwa figur karismatik Ustadz Taufik juga sangat mempengaruhi tatanan sosial di kota Pasuruan. Menurut Hanif Bin Thalib, seorang pemilik hotel klasik Daroessalam di Pasuruan, Ustadz Taufik adalah figur yang tak kenal tedeng aling-aling.

Jika ada kemunkaran, langsung dilawan. Tidak ada karoeke di Pasuruan. Walikota setempat berpikir dua kali untuk izinkan tempat-tempat yang bernuansa maksiat. "Bila Pak Walikota izinkan tempat karoeke, besoknya Ustadz Taufik sudah berteriak protes," kata Pak Hanif yang juga teman Ust Taufik saat masih kecil.

Tidak hanya urusan agama, bahkan Ustadz terkadang memperhatikan bahan material untuk fasilitas umum. Jika tidak layak, Ustadz Taufik langsung protes. Menurut tetangganya yang bernama Syifa, Ustadz Taufik pernah membanting paving block yang digunakan untuk jalan. Paving block yang mudah pecah ditolak mentah-mentah untuk fasilitas publik. Pak Walikota  pun setempat langsung mengabulkan permintaan beliau dan menggantikan paving block yang lebih kokoh.

Bila ulama seperti Ustadz Taufik tersebar di seluruh negeri ini, maka fungsi ulama sebagai garda bangsa negeri ini akan bekerja dengan baik. Fungsi simbiosis mutualisme antara ulama dan umara akan tampak di tengah masyarakat sehingga maksud demokrasi pun terimplementasi dengan benar. Dengan demikian, umara atau para pelaksana pemerintah tidak bisa sewenang-wenang karena merasa terpantau oleh ulama yang selalu didengar ummat.

Inilah konsep demokrasi sebenarnya yang tak mungkin diterapkan di negeri ini tanpa peran ulama. Kriminalisasi ulama itu tentunya sama halnya memberangus demokrasi itu sendiri. Semoga umara dan ulama di negeri ini bisa memerankan fungsi simbiosis mutualisme bak dua makhluk hidup yang menghormati habitatnya masing-masing karena saling membutuhkan. [***]


Alireza Alatas
Pembela Ulama dan NKRI/aktivis Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara (Silabna) 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA