Politik uang yang dilakukan salah satu calon bukan isapan jempol. Forum Masyarakat Transparasi Lampung (FMTL) bahkan menyimpulkan politik uang yang terjadi masuk kategori terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).
"Serangan fajar, politik uang,
money politic sangat sporadis. Terjadi hampir di seluruh kabupaten kota," kata Koordinator FMTL Hary Kohar, Minggu (1/7).
Uang disebar dua hari jelang hari H pencoblosan, 27 Juni 2018. Dia mengatakan pembagian amplop yang rata-rata berisi uang Rp 50 ribu untuk satu pemilih dilakukan dengan tersusun rapi. Begitu juga soal pendistribusiannya.
"Tabur uangnya begitu masif hingga pelosok desa," kata Hary Kohar.
Ketua Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) Lampung, Basuki, menyebut politik uang di Pilgub Lampung 2018 terjadi terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Dia menduga pembagian ampol berisi duit seharga 1 kilo jengkol dilakukan terstruktur karena menggunakan jaringan salah satu partai.
Sementara sistematis, disebutkan Basuki seperti dilansir
Kantor Berita RMOL Lampung, pembagian dilakukan seminggu sebelum hari H hingga malam menjelang pencoblosan.
"Tanpa sistem yang sistematis serangan tak mungkin sesporadis itu pada masa tenang," katanya.
Masifnya, menurut Basuki, dilakukan hampir di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung.
"Ada sembilan laporan pengaduan yang kami terima dari para penerima uang," tukas Basuki.
[dem]
BERITA TERKAIT: