Misalnya, Sudin Dukcapil Jakarta Selatan menggelar Biduk di Terminal Lebak Bulus, akhir pekan lalu. Di sini, puluhan orang dari berbagai daerah terÂjaring tidak memiliki identitas warga DKI Jakarta. Mereka yang tak memiliki KTP diberiÂkan Surat Keterangan Domisili Sementara (SKDS).
Kebanyakan pendatang baru mengaku mengadu nasib di JaÂkarta. Sebab, di kampungnya tak ada kerjaan. Maryam (21) peremÂpuan asal Brebes, Jawa Tengah yang mengaku sejak lulus SMA masih menganggur. Dengan modal ijazah SMA, Maryam berharap dapat pekerjaan dan bayaran yang lumayan.
"Di kampung nggak ada kerÂjaan, saya diajak saudara kerja ke sini. Siapa tahu dapat kerjaan enak, nggak seperti di kamÂpung," ujar Maryam.
Kepala Dinas KependuduÂkan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta Edison Sianturi menÂgungkapkan, instansinya meÂmang melakukan pendataan sekaligus memberikan edukasi pendatang baru melalui operasi Biduk. Rencananya, ini digelar selama 14 hari setelah arus balik Lebaran dan dilaksanakan secara terpadu melibatkan Dinas Sosial, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Sosial, serta para pengurus RT dan RW di tiap-tiap wilayah.
Ada 120 petugas terpadu yang diterjunkan di masing-masing wilayah. Selain jemput bola di terminal dan stasiun kedatangan, ratusan petugas akan difokuskan untuk menjalankan operasi di kantong-kantong permukiman pendatang baru yang sudah ditentukan.
Untuk sementara ini, Edison belum dapat memberikan data penduduk baru yang masuk ke Jakarta. Dia memprediksi, keÂnaikan tak akan terlalu drastis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pihaknya akan merekap data arus mudik dan arus balik bekÂerja sama dengan KementeÂrian Perhubungan. Data tersebut nantinya dikomparasikan denÂgan data hasil operasi yustisi kependudukan yang di lakukan di tingkat RT/RW di Jakarta.
"Data ini nanti ditindaklanjuti oleh instansi lainnya. Ada di DiÂnas Sosial, Disnakertrans. Kita pastikan pendatang diarahkan untuk memiliki keahlian. pada intinya, tidak ada pemulangan paksa," ujar Edison.
Pemerintah Provinsi (PemÂprov) DKI Jakarta memang tidak melarang warga dari daerah datang ke Ibu Kota. Hanya saja, melakukan sejumlah antisipasi supaya pendatang baru tidak menjadi beban.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno meminta kepada RT dan RW aktif membawa setiap pendatang baru ke PuskesÂmas setempat. Ini dilakukan untuk memastikan warga baru sehat dan tidak berpenyakit menular dan tak akan membeÂbani warga sekitarnya.
"Ini supaya juga diketahui riwayat vaksinasinya setelah diÂperiksa di Puskesmas," ungkap Sandiaga.
Diingatkan Sandiaga, para pendatang baru itu harus segera melapor ke RT dan RW dalam waktu 1x24 jam setelah kedatanÂgannya. Jika saat petugas mengÂgelar operasi Biduk menemukan pendatang yang belum terdaftar di Puskesmas, pihak Puskesmas akan jemput bola.
Di luar ini, Sandiaga berharap pendatang baru punya bekal keahlÂian dan keterampilan untuk berÂtahan hidup untuk kemudian bisa meningkatkan kesejahteraannya di Ibu Kota. Sebab pihaknyafokus menurunkan angka kemiskinan dari 3,78 persen menjadi 2,78 persen dalam jangka waktu lima tahun ke depan. "Saya berharap para pendatang mempunyai bekal keahlian atau kemampuan khusus," kata Sandiaga.
Sementata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tak terÂlalu mempermasalahkan potensi pendatang baru pascalebaran. Sebab, setiap warga berhak unÂtuk hidup dan tinggal di Jakarta asalkan menaati aturan. Hanya saja, dia mengimbau agar para pendatang itu mengikuti proÂgram Jaminan Kesehatan NaÂsional (JKN).
Solusi Urbanisasi Sosiolog yang juga Rektor Universitas Ibnu Chaldun JakarÂta, Musni Umar mengungkapkan, ada tiga penyebab urbanisasi. Pertama, pendatang baru tergiur saudara atau tetangga mereka. Kedua, pendatang merasa hidup di kampung tidak lebih baik kesÂejahterannya. Ketiga, terpengaruh publikasi media terkait kehidupan mewah di Ibu Kota.
"Penampilan, gaya hidup pemudik saat di kampung ini memukau. Kendaraan, gadget, kemajuan kota lainnya dibawa ke desa. Ditambah lagi tayangan televisi yang sedikit sekali cerita gagal para kaum urban di DKI," ungkap Musni saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.
Musni mengingatkan, pendaÂtang yang tak memiliki keahlian akan menimbulkan malapetaka. Tidak hanya bagi kaum urban, tetapi juga menjadi beban bagi kota tujuan.
"Kita sudah lihat bersama, pemukiman liar, pedagang asongan, pemalak, parkir liar, peminta-minta di jalan dan lain sebagainya. Kejahatan, krimiÂnalitas seperti begal, pencurian, penipuan, perampokan, meski yang melakukan belum tentu kaum urban," paparnya.
Untuk mengatasinya, lanjut Musni, perlu program jangka panjang dan menyeluruh. Ini bukan pekerjaan rumahIbu Kota dan kota besar lainnya saja, melainkan juga pekerjaan peÂmerintah pusat.
Sementara Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengungkapkan, bengkaknya jumlah pendatang baru menjadi masalah karena jumlah lapangan kerja tak mencukupi. Inilah awal muasal kemiskinan di Ibu Kota.
Menurutnya, persoalan ini harus diselesaikan dengan terÂstruktur. Yakni dengan memasÂtikan lapangan kerja di daerah dan memeratakan pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan infrastruktur. Ini dapat memanÂfaatkan program dana desa dari pemerintah pusat.
"Jadi, penciptaan lapangan kerja terus tumbuh. Yang tidak kalah penting, harus ada pelatiÂhan-pelatihan agar skill meninÂgkat sesuai kebutuhan industri," terangnya. ***
BERITA TERKAIT: