Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri mengatakan bahwa ada tiga peristiwa penting dalam sejarah peradaban manusia abad 20, yaitu Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, Pidato Bung Karno di PBB 1960, dan Gerakan Non-Blok Pertama yang diadakan di Beograd 1961.
"Konfrensi Asia-Afrika diikuti oleh 200 delegasi dari 29 negara, menghasilkan sebuah komunike akhir yang sangat bersejarah, yaitu DASA SILA BANDUNG. Hanya 10 tahun setelah KAA berlangsung, ada 41 negara yang memproklamirkan kemerdekaannya di Asia dan Afrika," ujar Megawati di Jakarta, Selasa (17/4).
"Saya berusia 8 tahun saat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, berusia 13 tahun saat Pidato Bung Karno di PBB 1960, berusia 14 tahun saat Gerakan Non-Blok Pertama diadakan di Beograd 1961. Saya adalah delegasi termuda," tambahnya.
Dirinya merasa terharu dan berterimakasih kepada semua pihak dan UNESCO yang telah menetapkan arsip Konferensi Asia-Afrika sebagai
Memory of The World (MoW) pada tanggal 9 Oktober 2015. Dengan ditetapkannya MoW ini, maka dokumen tersebut akan terus terjaga dan terlestarikan semua kekayaan documentary heritage secara bijak, termasuk nilai-nilai sejarah dan artistik yang tinggi.
"Jelas bukan hanya Indonesia, tetapi dunia, membutuhkan Arsip KAA, Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai ingatan kolektif. Goresan dari tiga tinta emas abad 20 tersebut, merupakan bekal setiap bangsa untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan," jelasnya.
Megawati menambahkan, ingatan kolektif terhadap sejarah adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik, beradab dan bermartabat. "Sehingga, penting untuk memperjuangkan Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai
Memory of The World, yang akan ditetapkan Unesco pada tahun 2019," tambahnya.
Sementara itu, Duta Informasi LIPI, Rieke Diah Pitaloka, menambahkan, post-truth adalah iklim sosial politik, di mana emosi mengalahkan obyektivitas dan rasionalitas, serta cenderung menolak verifikasi fakta. "Opini publik digiring sedemikian rupa melalui skenario pembohongan yang direncanakan dengan sistematis," jelasnya.
Menurut Rieke, semua pihak harus belajar dari para tokoh politik KAA. Bagi mereka, lanjutnya, kebenaran harus dapat diverifikasi. "Tidak ada satu orang pun yang dapat menyangkal bahwa Dasa Sila Bandung merupakan suatu kebenaran yang dapat diverifikasi dan telah diakui sebagai
Memory of The World oleh Unesco," pungkasnya.
[rry]
BERITA TERKAIT: