Soal Lelang Konsolidasi, Sandiaga Diduga Salah Terima Bisikan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Jumat, 09 Maret 2018, 09:44 WIB
rmol news logo . Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno dinilai telah mengambil langkah yang keliru dengan memastikan tidak akan menghapus sistem lelang konsolidasi.

Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengatakan putusan Sandi yang meneruskan lelang konsolidasi dengan beberapa modifikasi itu membuat publik menjadi bingung. Sebab, pada masa kampanye Pilgub lalu, Sandi itu sudah menjanjikan untuk menghapus kebijakan yang digagas di era Ahok-Djarot pada 2016 itu.

"Dimodifilkasi bagaimana? Pernyataan yang tidak jelas dan hanya bikin bingung publik agar publik diam saja sambil ngangguk-ngangguk," ujar Uchok saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (9/3).

Menurut Uchok, keputusan Sandi itu dapat menyebabkan permasalahan yang cukup pelik. Sebab, jumlah lokasi yang dilelang konsolidasikan itu menurutnya terlampau banyak. Padahal setiap perusahaan yang menang lelang konsolidasi wajib untuk menyediakan tenaga ahli.

"Satu paket proyek sekitar 20 lokasi. Jika satu lokasi harus menyediakan personil 20 yang memiliki SKA (Surat keterangan Akhli), maka untuk satu lokasi proyek 20 dikalikan 20 orang, maka personil yang harus disediakan 400 orang. ini untuk prakualifikasi," jelasnya.

Jumlah lelang konsolidasi yang terlampau banyak pula dikhawatirkan mengakibatkan perusahaan pemenang lelang juga tak akan melaksanakan proyek sesuai dengan tahapan yang sudah ditentukan. Baik itu tahap pra design, gambar, DED (perencanaan fisik), Spec. RAB (rancangan anggaran biaya), schedule dan sebagainya.

"Sehingga dalam pelaksanaan sering terjadi perubahan gambar kerja dan spec yang mengakibatkan kerugian cost dan waktu," imbuhnya.

Selain itu, lanjut Uchok, keberadaan lelang konsolidasi juga bakal memantik terjadinya permainan monopoli bahan dan barang dengan alasan merk dan spec tertentu. Yang jika dibeli dengan jumlah yang sangat banyak, tentu akan mengakibatkan tundaan pelaksanaan proyek karena harus menunggu vendor menyediakan bahan baku.

"Pada saat tagihan invoice pedoman tidak jelas karena RAB belum dipersiapkan perencana yang terjadi hanya dengan taksiran," tambahnya.

Untuk itu, Uchok menegaskan bahwa Sandi yang juga politisi Partai Gerindra itu telah keliru mengambil keputusan.

"Sepertinya Sandi tidak paham akan hal ini. Tidak menutup kemungkinan Sandi Salah menerima bisikan," tukas Uchok.

Lelang konsolidasi adalah sistem proyek seperti pembangunan rusun, flyover dan proyek yang membutuhkan anggaran Rp 200 juta lebih, dikerjakan perusahaan-perusahaan yang sudah teruji.  [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA