Beberapa tahun saya membantu Andi Arief (dalam kapasitasnya sebagai Staf Khusus Presiden SBY Bidang Kebencanaan) dan para ahli seperti Dr. Danny Hilman, Dr. Irwan Meilano, Dr. Wahyu Triyoso dan lain-lain dalam melakukan kampanye riset kebencanaan, khususnya dengan pesan "awas bahaya gempa besar di Jakarta" dan "perlunya micro zonasi kegempaan di Jakarta" serta "perlunya kesinambungan riset patahan-patahan tektonik di Indonesia". Walau titik episentrum gempa ada di Sukabumi atau di Selat Sunda, Jakarta bisa merasakan getaran yang dahsyat.
Banyak yang menertawakan upaya ini. Ngomong soal ancaman gempa besar di Jakarta dianggap membual. Orang-orang yang berseberangan secara politik dengan AA waktu itu semakin asyik nyerang kanan kiri. Sementara Gubernur Foke bilang kami ini sejenis tukang obat di pinggir jalan. Mungkin saja beliau tersinggung karena AA meminta DKI segera membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sesuai amanat undang-undang, sementara DKI waktu itu menganggap urusan kebencanaan cukup ditangani Dinas Pemadam Kebakaran (meskipun pada akhirnya dibuat juga). Sebab, mindset kebencaanaan di DKI masih terfokus pada banjir dan kebakaran dan sama sekali belum memperhitungkan kemungkinan gempa.
Tapi AA dan para ahli itu jalan terus. Mereka menyumbangkan satu legacy penting bagi pemerintahan SBY: Program Pascasarjana Studi Kegempaan (GREAT) di ITB. Ini program pertama dan satu-satunya di Indonesia yang seharusnya diarustamakan di perguruan tinggi kita karena Indonesia berada di wilayah yang dihampari patahan tektonik dan vulkanik. Bahwa Pak Jokowi punya prioritas lain dalam pendidikan (semisal UIII atau fakultas sosmed) ya itu urusan beliau. Tapi perguruan tinggi seharusnya menangkap urgensi dari persoalan kebencanaan ini dan mengakomodasinya dalam bentuk program studi atau pusat kajian yang terpadu. Banyak patahan di Indonesia yang minim data risetnya. Saya ngenes ketika mendengar cerita Dr. Danny Hilman sempat membiayai sebagian riset tentang patahan Sumatera dari dana sendiri.
Saya ingat, waktu itu, AA juga mendorong agar UGM mengembangkan program studi kegunungapian. Saya sempat mengatur pertemuan dengan Rektor Prof. Dr. Sujarwadi namun sayangnya proses dari olah gagasan itu tidak se-smooth dengan ITB. Mungkin UGM lebih konsen untuk mengembangkan program manajemen kebencanaan yang juga penting dan sudah berjalan di sana. Meskipun demikian, ide tentang program studi kegunungapian jelas-jelas sangat mendesak karena kita kekurangan pakar gunung api. Pakar kita saat ini cuma Mbah Rono (Dr. Surono) yang sudah pensiun. Itu pun beliau sekolahnya di Prancis dan kader beliau yang sudah jadi doktor (kalau tidak salah namanya Dr. Purbo) di-hire EOS Singapura.
Hari ini Jakarta digoyang gempa lagi. Seorang teman menyaksikan gedung-gedung, termasuk yang baru, terhuyung kanan kiri saat dihempas getaran gempa. Sebuah pesan masuk ke inboks saya. "Potensi Jakarta kayak Mexico City tahun 1985 itu bisa terjadi karena gedung-gedung di Jakarta sebagian besar tidak dibangun dengan standar ketahanan gempa yang tinggi. Kalian nggak jualan obat waktu itu." Agak lega dada saya. [***]
Akuat Supriyanto(Mantan Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam)
BERITA TERKAIT: