Begitu dikatakan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Selatan, Muslimin, Rabu (3/12).
"Meskipun demikian, pada saat ini keragaman varietas padi mulai terancam akibat kecenderungan petani menanam varietas padi yang secara ekonomi lebih komersial, terutama melalui introduksi varietas unggul,†ujarnya.
Muslimin menjelaskan, ancaman punahnya keanekaragaman genetik padi tidak hanya karena adopsi varietas modern namun juga karena hilangnya sistem pertanian dimana keragaman tersebut ada.
Contohnya, adanya perubahan pemanfaatan lahan ekosistem sawah dataran tinggi menjadi lahan untuk pertanaman sayuran dan hortikultura lainnya.
"Hal itu berpeluang memberikan kontribusi terhadap kehilangan varietas tradisional yang toleran terhadap kondisi alam setempat,†katanya.
Menurut Muslimin, bagi petani di kawasan Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan keragaman varietas sangat penting sebagai bagian dari strategi mereka untuk mengatasi cekaman OPT dan memelihara ketahanan pangan di kawasan ini.
Keragaman ini merupakan hasil interaksi masyarakat setempat dengan lingkungan alam dalam rangka penyediaan pangan dan kelestarian habitatnya dan menjadi faktor penentu bagi pencapaian pembangunan yang berkelanjutan.
Dari pengkajian yang dilakukan BPTP Kalimantan Selatan diketahui ternyata petani di Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan menanam 2 jenis padi gogo, yaitu padi ketan dan padi taman (padi biasa).
Sebagian merupakan varietas yang berumur genjah (banih ringan) dan sebagian lagi berumur lebih panjang (banih halin). Kedua jenis padi gogo ini ditanam secara bersamaan dengan cara ditugal.
"Jumlah varietas lokal padi gogo yang pernah ditanam petani di lokasi penelitian terdiri atas padi taman sebanyak 101 varietas dan padi ketan sebanyak 45 varietas sehingga seluruhnya ditemukan sebanyak 146 varietas padi gogo dari sembilan komuniti yang diteliti,†katanya.
Menurut Muslimin, umumnya komuniti yang memiliki keragaman varietas yang tinggi berada dalam lingkungan balai adat yang masih memegang teguh ketentuan adat secara turun temurun. Mereka bermukim di kawasan yang terpencil dengan akses transportasi yang terbatas.
Desa Balai adat Karya Sepakat yang mempunyai akses transportasi paling baik dikarenakan berada di lintas timur jalan Trans Kalimantan justru memiliki keragaman varietas paling sedikit diantara semua balai adat yang ada.
"Komuniti yang keragaman varietasnya relatif rendah berada di perkampungan yang sudah longgar keterikatannya dengan adat karena perbedaan keyakinan dan sejarah kebudayaannya. Mereka umumnya mendiami kawasan yang memiliki akses transportasi yang baik sehingga akses ke pasar menjadi sangat terbuka,†jelas Muslimin.
Rata-rata pada setiap komuniti ditemukan antara 15-48 varietas padi gogo, terdiri atas padi taman dengan kisaran 5-36 varietas dan padi ketan berkisar antara 7-16 varietas. Diantara 101 varietas padi taman, terdapat 38 varietas yang ditemukan pada lebih dari satu pemukiman (komuniti). Sisanya sebanyak 63 varietas hanya ditemukan pada satu komuniti.
Diantara varietas padi taman yang ditemukan pada hampir seluruh komuniti yang diteliti adalah Buyung Putih dan Buyung Kuning, Siam Unus serta Nakit, Tampiku, Kelapa, Badagai Putih, Carnik dan Radin. Semuanya ditemukan pada 4-9 komuniti.
Diantara 45 varietas padi ketan, lanjut Muslimin, terdapat 18 varietas yang ditemukan pada lebih dari satu pemukiman (komuniti), berkisar antara 2-8 komuniti menyatakan memiliki varietas padi ketan tersebut.
Sisanya sebanyak 27 varietas hanya ditemukan pada satu komuniti. Diantara varietas padi ketan yang ditemukan pada hampir seluruh komuniti yang diteliti adalah Harang, Kapas, Banyumas dan Tarap serta Tamiyang, Paikat dan Tabalong. Semuanya ditemukan pada 4-8 komuniti.
Kondisi keragaman aktual antar pemukiman pada saat ini juga menunjukkan perbedaan degradasi keragaman varietas yang sangat besar pada beberapa kawasan. Kawasan perkampungan etnis Banjar dan pendatang lainnya memiliki keragaman yang relatif rendah dan kehilangan ragam varietas yang relatif tinggi, berkisar antara 20 persen-36,36 persen.
Kawasan lain relatif stabil kecuali, Balai Adat Macatur di Desa Haruyan Dayak Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang memperlihatkan gejala penurunan keragaman yang sangat tinggi.
Selain itu 20 dari 43 varietas yang pernah ditanam (46,51 persen) sudah tidak ditanam lagi oleh petani di pemukiman ini dalam dua tahun terakhir.
Penurunan keragaman varietas pada pemukiman di perkampungan Banjar dan pendatang lebih banyak disebabkan karena tingginya permintaan pasar terhadap varietas tertentu sehingga mereka cenderung menanam varietas yang homogen.
"Penurunan keragaman pada komuniti Balai Adat Macatur disebabkan terjadinya degradasi lahan sebagai akibat semakin sempitnya lahan perladangan,†katanya.
Karena kondisi tersebut, masih kata Muslimin, petani di kawasan ini pada akhirnya melakukan penilaian terhadap varietas yang biasanya mereka tanam dan mulai meninggalkan varietas yang selalu mengalami penurunan hasil karena dianggap tidak cocok lagi dengan mereka.
Kepercayaan masyarakat adat Pegunungan Meratus mengenai kesakralan tanaman padi merupakan salah satu strategi mereka untuk memelihara keragaman varietas padi gogo di kawasan ini.
Dalam kepercayaan masyarakat adat di Pegunungan Meratus menanam padi merupakan suatu keharusan sebagai bagian dari kepercayaan mereka terhadap asal-usul padi.
Mereka percaya bahwa padi merupakan tanaman yang dibawa dari surga, ketika nenek moyang manusia Adam dan Tihawa (Siti Hawa) terusir ke dunia. Mereka menanam suatu varietas bukan karena rasanya tetapi lebih pada kewajiban dan daraman (kesesuaian) suatu varietas dengan mereka.
"Dalam penelitian ini sebagian besar komuniti yang masih kuat memegang adat menolak untuk membandingkan suatu varietas dengan varietas lainnya. Bagi mereka tidak ada varietas yang lebih disukai dibandingkan dengan yang lainnya karena dasar penanaman bukan kesukaan tetapi kesesuaian (daraman) suatu varietas dengan seseorang. Mereka juga ditabukan menjual padi hasil panennya sehingga mereka tidak memperdulikan preferensi pasar,†tandasnya.
[sam]
BERITA TERKAIT: