Pasokan Beras Di Cipinang Masih Melimpah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Selasa, 26 Desember 2017, 23:17 WIB
Pasokan Beras Di Cipinang Masih Melimpah
Nellys Soekidi/Net
rmol news logo . Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Provinsi DKI Jakarta, Nellys Soekidi menampik jika pedagang beras kesulitan memperoleh pasokan beras.

Pasokan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) sendiri dipastikan masih cukup dan aman untuk kebutuhan pasca Natal dan Tahun Baru 2018.

Dia mengaku tidak mengenal dengan pedagang beras bernama Halim dan Rizal yang mengaku-ngaku kesulitan mendapatkan beras di PIBC. Sebagaimana diketahui, Halim dan Rizal di berbagai media online mengaku kesulitan mendapatkan beras karena pasokan di PIBC seret.

"Aku kok enggak kenal Rizal dan Halim ya Bro," kata Nellys Soekidi, Selasa (26/12).

Nellies mengatakan hampir semua pedagang di PIBC saling mengenal satu sama lainnya. Namun demikian, dia memastikan semua orang bebas berdagang bahkan memesan beras di PIBC untuk diedarkan ke masyarakat.

"Sebelum liburan Natal, pasokan masih normal dan harga relatif masih stabil. Semua data tersebut ada di Food Station," tambah dia.

Diwawancara terpisah, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Raya, Arief Prasetyo Adi menegaskan pasokan beras untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya masih di atas normal bahkan surplus 6 ribu ton dari kebutuhan normal biasanya sebesar 3 ribu ton. Dia pun memastikan pasokan beras Natal hingga Tahun Baru 2018 masih aman untuk Jakarta dan sekitarnya.

"‎Besok (Rabu, 27/12) itukan masuk lagi. Cuma untuk hari ini pasokan masih cukup 36 ribu ton, jadi masih diatas 30 ribu ton (kebutuhan normal). Harganya juga masih baik," kata Arief.

Cuma memang, kata dia, mayoritas beras yang masuk ke PIBC, 70 persen diantaranya merupakan beras premium. Kondisi ini terjadi karena pasokan dari daerah untuk beras jenis medium masih terbatas lantaran harga gabah di tingkat petani sedang bagus-bagusnya di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yakni sekitar Rp 5000-6000/kg.

"Sementara kalau gabah inikan begitu digiling jadi beras 2 kali lipat dari harga gabah. Kalau dijual di angka HET Rp 9450/kg tidak menguntungkan. Makanya kita antisipasi dengan operasi pasar, 30 persen dari beras Bulog untuk berikan alternatif beras medium bagi masyarakat," katanya.

Namun demikian, dia memastikan kebutuhan beras saat ini hingga tahun baru tetap aman terkendali. Dia pun memastikan pihaknya bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang beranggotakan Food Station PIBC, Dinas Ketahanan Pangan, termasuk Kepolisian Polda Metro Jaya mengupayakan agar naiknya harga gabah di tingkat petani ini tidak berpengaruh berat pada inflasi.

"Natal kan sudah lewat, InsyaAllah sampai Tahun Baru aman. Apalagi akhir Januari hingga akhir April inikan ada lagi panen raya," tambah dia. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA