Pelantikan pengurus SMSI Sumbar ini turut dihadiri Wakil Gubernur Sumbar, H. Nasrul Abit Dt. Malintang Panai dan Dar Edi Yoga dari PWI Pusat.
Dalam sambutannya, Teguh menegaskan, SMSI berdiri dari Sabang hingga Merauke untuk membantu anggota-anggotanya menjadikan media siber mereka betul-betul profesional baik dari sisi keredaksian, karya-karya persnya, maupun dari sisi pusat.
"Sehingga pusat media siber itu bisa ikut membantu bangsa ini dengan keragamanan yang tinggi, tidak gampang dipecah belah oleh kabar
hoax, bicara kebencian dan seterusnya," terang Teguh.
Teguh menjelaskan, anggota SMSI saat ini sudah mencapai seribu yang tersebar di 27 provinsi di Indonesia. Sementara itu berdasarkan data Dewan Pers ada 43 ribu media online di Indonesia.
"Dari 43 ribu itu sebagian besar, mohon maaf, itu abal-abal, tanpa mematuhi kode etik jurnalistik," ucap Teguh.
Menurut Teguh, untuk menjadi media profesional dibutuhkan persyaratan yang telah ditetapkan dewan pers. Di antaranya, medianya harus memiliki badan hukum berbentuk PT, penanggungjawab adalah wartawan utama dalam kompetensi wartawan, memiliki tempat atau gedung yang tetap serta persyaratan lainnya.
"Dilihat dari persyaratan memang cukup berat, namun kita akan mengarahkan semua anggota SMSI ke sana. Saat ini sudah banyak anggota SMSI yang sudah memenuhi persyaratan. Bagi yang belum akan kita arahkan ke sana," katanya.
Berkaitan media profesional, Teguh lantas menceritakan pengalamannya mengikuti konferensi tentang Masa Depan Media Digital di Seoul, Korea Selatan, dua pekan lalu. Konferensi ini menghadirkan pembicara dari praktisi pemilik media hingga perusahaan platform seperti Google, Kakao Talk, dan Twitter. Ada tiga hal yang ditangkapnya dari penjelasan para pembicara dalam konferensi.
"Bagaimana media ini berubah dari platform-platform tradisional masuk ke plaftrom baru yang kita sebut siber,
cyber, atau internet atau
online, sama saja.
Nah, ada kegagalan dalam platform-platform baru, itulah yang dibicarakan," papar Teguh.
Hal kedua yang dibicarakan mengenai inovasi yang menjadi kunci sebuah perusahaan media siber berumur panjang atau tidak. "Apakah dia (media siber) bisa menjadi bagian konstruktif bagi masyarakat atau dia malah menjadi bagian menghancurkan masyarakat, itulah inovasi," terangnya.
Poin lain yang dibicarakan adalah
trust atau kepercayaan. "Kalau saya sebutkan karya jurnalistik itu informasi yang sudah disahih sedemikian rupa, melibatkan proses begitu banyak, saringan yang begitu banyak, itu karya jurnalistik, dan terpenting berdasarkan fakta.
Nah karya jurnalistik mengalami penurunan kepercayaan di seluruh dunia, ini serius. Ini karya jurnalistik apalagi yang bukan karya jurnalistik," tutur Teguh, menekankan.
Sementara itu, Ketua SMSI Sumbar, Syahrial Azis menyatakan tekadnya menciptakan pemberitaan yang profesional sesuai kode etik jurnalistik sehingga tujuan SMSI untuk membangun bangsa ini bisa terwujud.
"Dengan adanya wadah SMSI bagi media siber di Sumbar ini, kita bertekad menciptakan berita yang sesuai dengan kode etik dan bukan berita hoax. Kita melawan
hoax," jelasnya.
Wagub Sumbar pun mendukung upaya SMSI untuk menciptakan berita jurnalistik dan melawan hoax. "Saya yakin dengan adanya organisasi media seperti SMSI ini bisa mengatasi berita
hoax. Sudah ada wadahnya sehingga tidak mungkin melakukan cyber crime. SMSI tentu melakukan tindakan," katanya.
[wid]