Akuisisi Pabrik Gula, Bulog Hilang Fokus

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 08 Februari 2017, 21:37 WIB
Akuisisi Pabrik Gula, Bulog Hilang Fokus
Net
rmol news logo Langkah Perum Bulog melakukan akuisisi pabrik gula PT Gendhis Multi Manis (GMM) menuai kritik. Di tengah performa buruk dalam upaya menstabilkan harga pangan termasuk gula, aksi korporasi yang dilakukan perusahaan plat merah itu dinilai tidak layak.

Ketua BUMN Watch Naldy Nazar Haroen menjelaskan, sebagai badan usaha yang punya tugas utama menjaga stabilisasi harga komoditi pangan, Bulog semestinya hanya berperan untuk mendistribusikan bukan justru menjadi pelaku industri dengan memiliki pabrik sendiri. Langkah akusisi menunjukkan bahwa Bulog lebih fokus bergerak di bidang industri dan memilih sebagai pemain, bukan lagi stabilisator harga.

"Kok Bulog punya pabrik. Kalaupun mau punya pabrik ya jangan Bulog yang ambil alih, BUMN dong. Bulog kan tugasnya stabilisator harga, penampung, kenapa malah take over pabrik," kata Naldy kepada wartawan, Rabu (8/2).

Menurutnya, Bulog bukanlah seperti perusahaan BUMN komersil lainnya yang dituntut mengejar keuntungan besar. Adanya kepemilikan perusahaan yang tumpang tindih dengan peran serta fungsi awal Bulog, dikhawatirkan akan ada permainan dalam proses importasi gula. Karena Bulog akan menjadi produsen, regulator, dan sekaligus stabilisator.

Naldy juga meragukan pengambilalihan perusahaan dimaksudkan untuk stabilisasi harga. Dia justru balik bertanya apakah dengan cara memiliki pabrik, Bulog bisa memastikan harga akan stabil.

"Berapa ton kapasitas pabriknya. Apakah dijamin tidak ada impor lagi dengan pabrik yang diambil alih itu, saya rasa tidak," ujarnya.

Komisoner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kamser Lumbanradja juga mempertanyakan akusisi PT GMM oleh Bulog, lantaran dinilai sebagai perusahaan sakit.

"Pertanyaan kita kepada Bulog, mau diapakan sebenarnya PT Gendhis ini. Karena PT Gendhis ini belum bisa menstabilkan, wong dia sakit," bebernya.

Menurut Kamser, KPPU masih membutuhkan data jelas mengenai besaran kemampuan produksi PT GMM dan pengaruhnya terhadap cadangan gula nasional. Dengan mengetahui hal tersebut barulah dapat ditentukan efektif tidaknya pembelian saham pabrik.

"Kalau kapasitas sudah tinggi tapi harga tidak turun-turun berarti benar PT Gendhis ini dibuat untuk mencari untung sebesar-besarnya," ujarnya.

Sementara, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir menambahkan bahwa Bulog tidak layak mengakuisisi 70 persen saham PT GMM. Meski, dia meyakini pembelian tersebut melewati aturan yang berlaku.

"Ini bukan permasalahan boleh atau tidak boleh membeli pabrik. Tapi pembelian saham ini berkaitan pada patut tidak patutnya Bulog membeli saham, karena Bulog tidak patut melakukan hal ini," jelasnya.

Menurut Inas, Bulog tidak perlu mengakuisisi saham pabrik gula, mengingat pemerintah juga memiliki PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang khusus menangani bisnis tersebut. Dia pun meminta Bulog tetap pada fokus kerjanya sebagai stabilisator pangan.

"Kalau Bulog memikirkan hal lain maka mereka akan kehilangan fokus dari tugas pokok yang dimiliki," tegasnya.

Diketahui, Perum Bulog pada akhir tahun lalu mengakuisisi 70 persen saham PT GMM, perusahaan pabrik gula di Blora senilai Rp 77 miliar. Bulog beralasan, nantinya produk gula yang dihasilkan akan dipasok ke Bulog untuk dijadikan cadangan nasional yang dapat digunakan untuk intervensi pasar saat harga gula tinggi. Kapasitas PT GMM saat ini tercatat 6.000 ton tebu per hari. Selama ini PT GMM mendapatkan bahan baku dari tebu perkebunan rakyat. [wah] 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA