"Karena itulah saya sepakat dengan
closing statement pasangan nomor dua tersebut bahwa untuk menjadi Gubernur dan Wagub DKI diperlukan konsistensi, program nyata, dan keberanian bersikap daripada sekedar retorika. Menjadi pemimpin tidak bisa bermodalkan hafalan," kata Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dalam keterangan beberapa saat lalu (Sabtu, 14/1).
Dengan penampilan Ahok Djarot yang menunjukkan kemampuan kerjasama keduanya yang sangat baik tersebut, Hasto meyakini bahwa
swing voters akan bergeser ke Petahanan. Apalagi bagaimanapun masyarakat DKI tidak mau berspekulasi. Rakyat Jakarta memerlukan pemimpin yang sudah pengalaman menyelesaikan banjir; peminpin yang mampu menyediakan transportasi publik yang baik; dan pemimpin yang berani mengambil keputusan betapapun itu sulit dan beresiko.
Menurut Hasto, jawaban tegas dari Ahok-Djarot terhadap serangan tajam kedua pasangan lain terhadap kebijakan relokasi warga yang tinggal di bantaran sungai menunjukkan bahwa Ahok-Djarot lebih berbicara tantangan nyata. Ketegasan Ahok-Djarot untuk melakukan perbaikan bantaran sungai nampak sebagi bagian solusi mencegah banjir dan perbaikan kualitas lingkungan.
"Dukungan kebijakan bagi warga yang terpaksa harus dipindahkan ke runah susun yang terintegrasi dengan pemberian subsidi harga kebutuhan pokok warga DKI Jakarta, transportasi gratis dan pelayanan kesehatan serta pendikan yang diberikan gratis bagi penghuni rusun justru menampakkan aspek-aspek manusiawi program Ahok Djarot. Pasangan lain sedang merencanakan dan Ahok Djarot sudah jalankan," kata Hato.
Hasto sendiri menyatakan puas dengan penampilan pasangan nomor dua tersebut.
"Persepsi positif sosmed yang menempatkan Ahok Djarot jauh lebih unggul adalah hasil dari konsistensi Ahok yang tidak pernah terpancing oleh serangan tajam pasangan lain," demikian Hasto.
[ysa]
BERITA TERKAIT: