"Semestinya kurikulum itu berbasis kearifan budaya, bukan kearifan lokal," ucapnya di hadapan wartawan usai mengisi acara Seminar Nasional Pendidikan di Gedung Husni Hamid kompleks pemda Karawang, Kamis (12/11), seperti dilansir
RMOLJabar.Com.
Menurut Dedi, kearifan lokal yang dipahami para guru dalam kurikulum 2013 atau sekarang disebut kurikulum nasional berbentuk muatan lokal, seperti bahasa daerah dan kesenian lokal. Padahal, dalam persepektif kearifan budaya, kurikulum itu harus menyesuaikan dengan basis hasil daerah, sehingga kurikulum itu harus berbasis produktivitas daerah.
"Kabupaten Karawang ini terdiri dari basis pertanian, basis kelautan dan industri," ujarnya.
Dengan adanya ketiga basis itu, kata dia, seharusnya Pemkab Karawang melalui kurikulum pendidikan melakukan pemetaan, berapa persentase peserta didiknya yang harus kuasai pertanian, kelautan dan industri.
"Yang terjadi saat ini di Karawang, saat industri berjalan dengan cepat, masyarakatnya tidak disiapkan menghadapi itu sehingga tertinggal," pungkasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: