Estetika Provinsi 'Seribu Sungai' Dicemari Asap

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Sabtu, 24 Oktober 2015, 13:41 WIB
rmol news logo Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) terletak di Pulau K‎alimantan dengan ibukota provinsi Kota Pontianak. Luas wilayah provinsi dengan julukan 'seribu pulau' ini adalah 146.807 km persegi atau 7,53 persen luas Indonesia. Menempatkan Kalbar yang berbatasan Sarawak Malaysia sebagai provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur ‎dan Kalimantan Tengah.

Tiga bulan terakhir (Juli-Oktober 2015) estetika Kalbar yang memiliki ratusan sungai dicemari oleh kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Hari ini (Sabtu, 24/10), wartawan Kantor Berita Politik RMOL, Ruslan Tambak berkesempatan mengunjungi Kalbar bersama puluhan awak media lain dalam acara Press Gathering MPR RI. Salah satu tempat yang didatangi adalah Sukadana di Kabupaten Kayong Utara. Menuju ke sana harus mengarungi Sungai Kapuas, Selat Kubu Raya, dan Teluk Batang Kayong Utara dari Kota Pontianak selama lima jam menggunakan spedd boat.

Sepanjang perjalanan, terpantau pinggiran sungai yang ditumbuhi bermacam pepohonan diselimuti asap. Jarak pandang diperkirakan hanya 500 meter. Kondisi ini membuat para pelayar sangat berhati-hati saat menahkodai kapalnya.

Mereka yang berlayar juga dianjurkan menggunakan masker untuk mengantisipasi sebaran penyakit ISPA.

Tidak hanya itu, pohon-pohon di sebagian pinggiran sungai juga terlihat tandus. Dicurigai pohon-pohon itu sengaja ditebang oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi alias illegal loging.

Hari ini Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penggulang Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melaporkan, terhitung sejak 1 Juli hingga 23 Oktober 2015, bencana asap telah menyebabkan 503.874 jiwa sakit ISPA di enam provinsi. Dengan rinciannya sebanyak 80.263 di Riau, 129.229 di Jambi, 101.333 di Sumsel, 43.477 di Kalbar, 52.142 di Kalteng dan 97.430 di Kalsel.

Sutopo menjelaskan, kemungkinan jumlah penderita yang sebenarnya lebih daripada itu karena sebagian masyarakat sakit tidak berobat ke puskesmas atau rumah sakit. Mereka berobat mandiri sehingga tidak tercatat.

Dengan skala kebakaran yang demikian luas tidak mungkin 1-2 minggu ke depan akan padam. Tapi semua ikhtiar kita lakukan bersama.[wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA