Sayangnya, relawan Satgas Penanganan Covid-19 Suryopratomo mengatakan, ironi tersebut dijadikan euforia demokrasi untuk sehingga akhirnya mitigasi wabah menjadi terhambat.
Ketika kasus pertama Covid-19 muncul di Indonesia pada Maret, Tommy - sapaan Suryopratomo membeberkan, sistem kesehatan tanah air tidak cukup tangguh untuk menghadapi pandemi.
Dengan 270 juta populasi, ia mengatakan, Indonesia hanya memiliki kurang dari 200 ribu dokter.
"Kemudian dokter spesialis tidak sampai 35 ribu. Yang lebih ironis lagi dokter paru kita itu kurang dari 2.000. Belum lagi kita bicara fasilitas kesehatan," ujarnya dalam talkshow bertajuk "Suryopratomo, Dari Relawan Hingga Duta Besar†yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa (27/10).
Dengan ironi tersebut, mantan pemimpin redaksi surat kabar Kompas itu mengatakan, alih-alih berjuang, masyarakat Indonesia justru mengeksploitasinya.
"Saya melihat selama enam bulan pertama ini kita masuk dalam euforia demokrasi, (pandemi) dianggap sebagai sebuah isu untuk memotret ketidakmampuan pemerintah," tutur Tommy.
"Semua orang mengeksploitasi kelemahannya. Bukan kemudian 'ayo sharing', 'apa yang dibutuhkan bangsa ini?'," lanjutnya.
BERITA TERKAIT: