Penguatan SDM tersebut dilakukan untuk membantu penanganan kasus Covid-19 di Surabaya, Jawa Timur.
Satgas Kesehatan TNI yang dibentuk terdiri Korps Kesehatan Militer TNI AD sejumlah 22 personel, Kesehatan TNI AL 7 personel, dan Kesehatan TNI AU 3 personel yang bertugas terhitung mulai tanggal 5 Juni 2020. Unsur kesehatan militer TNI AD yang terlibat dalam satgas seluruhnya berasal dari Kesdam V/Brawijaya.
Kabidpenum Puspen TNI, Kolonel Sus Aidil mengatakan, selain penguatan SDM, Satgas juga sudah mendirikan Rumah Sakit Lapangan Indrapura, Surabaya-Jawa Timur beberapa waktu yang lalu.
"Pangkogabwilhan II diperintahkan untuk mengelola Rumah Sakit Lapangan Indrapura dengan Panglima Komando Tugas Gabungan Terpadu (Pangkogasgabpad) 4, yaitu Pangdam V/Brawijaya beserta unsur Badan Pelaksana Balak Kodam sebagai pelaksana," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima
Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (13/10).
Ia melanjutkan, hal tersebut dilakukan demi membantu terwujudnya pengelolaan Rumah Sakit Lapangan Indrapura secara optimal dengan prioritas kerja bersama dan mengutamakan sinergitas dengan segenap unsur lain yang terlibat dalam pengelolaan rumah sakit tersebut.
Rumah Sakit Lapangan Kogabwilhan II Indrapura Surabaya atau disebut RSLKI saat ini menempati gedung Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kemenkes yang terletak di jalan Indrapura No 17 Surabaya dengan luas gedung 17.728 M2 menempati tanah seluas 54.000 M2.
"Gedung yang dibangun pada tahun 1954 ini sempat digunakan berganti sebagai kantor, lembaga pendidikan dan Rumah Sakit Khusus Penyakit Kulit dan Kelamin sebelum terakhir berfungsi sebagai Lembaga Pendidikan Akupunktur, Akademi Refraksi, Museum Cagar Budaya Kesehatan dan UPF Litbang Kemenkes," lanjutnya.
Rumah sakit yang dikelola oleh TNI tersebut berkapasitas tempat tidur 357, dikhususkan bagi pasien konfirmasi positif dengan kategori ringan hingga sedang. Hal ini berguna untuk merelaksasi rumah sakit rujukan utama yang ada sekaligus menghindari penumpukan pasien dan bisa lebih berkonsentrasi merawat pasien dengan derajat berat dan critical III.
Begitu pasien Covid-19 yang diisolasi lebih awal setelah terdiagnosis, akan dapat mencegah kondisi penyakit pasien semalkin memburuk.
Sumber Daya Manusia (SDM) RSLKI seperti dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain dipenuhi dari unsur TNI, pemerintah Provinsi dan organisasi profesi serta relawan. Setiap tenaga kesehatan yang bertugas di RSLKI tersebut terlebih dahulu diberikan pelatihan dan magang diberbagai Rumah Sakit.
RSLKI ini tergabung dalam 127 rumah sakit rujukan se-Jawa Timur dalam sebuah sistem integrasi antarrumah sakit rujukan se-Jawa Timur. Sistem rujukan ini disebut juga Covid Hub yang memiliki pusat
call center di RSLKI. Karena rumah sakit ini hanya merawat pasien rawat inap Covid-19 dengan derajat ringan-sedang, sehingga memerlukan kolaborasi dengan RS rujukan utama bila kondisi memburuk.
Rumah sakit rujukan utama RSLKI ini adalah RSUD dr. Soetomo dan RS Khusus Infeksi Unair. Rumah sakit ini juga nantinya menerima pasien pasca perawatan dari rumah sakit rujukan lain dengan derajat ringan dan sedang yang masih memerlukan isolasi.
"RSLKI juga menerima rujukan atau kiriman pasien dari rumah sakit atau Puskesmas dan instansi kesehatan lainnya se Jawa Timur," lanjutnya.
Personel yang mengawaki pelayanan medis terdiri dari gabungan Kesehatan TNI dan Polri, Pemda Jawa Timur, dan relawan-relawan dari berbagai Perhimpunan Profesi seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia), PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), Hisfarsi (Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit), Patelki (Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia).
Selain dari unsur TNI, tim dokter juga terdiri dari dokter-dokter spesialis yang ditugaskan oleh IDI dari berbagai perhimpunan dokter spesialis yang ada di Surabaya.
BERITA TERKAIT: