Kasus peredaran vaksin palsu selama 13 tahun membuat geram masyarakat. Muncul petisi onÂline mendesak Pemerintah Jokowi membeberkan kepada publik nama distributor, rumah sakit dan layanan kesehatan penyebar vaksin palsu.
Petisi online tersebut disampaiÂkan melalui laman
Change.org. Petisi berjudul 'Selamatkan Nyawa Bayi/balita Indonesia. Usut tuntas Pemalsuan Vaksin di Indonesia, sudah ditandatangani 20 ribu lebih netizen. Petisi tersebut terpampang sejak Selasa (28/6) pukul 09.30 WIB, dibuat oleh Niken Rosady.
Petisi menuliskan keresahan pasca terungkapnya kasus tersebut. "Rasa aman tersebut terusik dengan terÂungkapnya kasus pemalsuan vaksin di Bekasi, dengan salah satu terÂsangkanya adalah pasangan suami istri (mantan perawat). Yang lebih mengerikan lagi, ternyata tindakan pemalsuan ini telah dilakukan sejak tahun 2003. Artinya, sindikat pemalsu vaksin telah beroperasi selama 13 tahun dan telah tersebar ke beberapa daerah di Indonesia," tulisnya.
"Bayangkan, berapa jumlah bayi-balita yang menjadi korban? Anak-anak tak berdosa itu kini menjadi rentan terhadap penyakit berbahaya yang bisa mengancam jiwa, karena vaksin yang digunakan untuk imunisaÂsi bukan vaksin asli. Sebagai orang tua dan juga konsumen pengguna vaksin, kita berhak untuk mengetahui dan memastikan vaksin yang digunakan itu ASLI dan AMAN," lanjutnya.
Untuk itu, petisi mengajak para orangtua Indonesia untuk menduÂkung penyidikan kasus vaksin palsu dan meminta Polri membasmi tuntas pemalsuan vaksin, serta menindak tegas para pelaku.
Petisi itu juga mendesak Pemerintah, Polri dan pihak berwenang lain untuk mengumumkan nama-nama distributor, rumah sakit, klinik atau tempat kesehatan lain yang terindikasi atau terbukti mengÂgunakan vaksin palsu. "Kita harus mendukung pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan untuk men-
disclose daftar distributor, RS, klinik, tempat layanan kesehatan yang menggunakan vaksin palsu guna transparansi," tambah Niken dalam
update petisinya.
Selain itu, pemerintah juga didesak melakukan vaksinasi ulang secara serÂentak. "Mendorong Pemerintah untuk melakukan vaksin ulangan terhadap anak-anak yang lahir antara tahun 2003â€"2016, guna menjamin generasi indonesia yang sehat dan bebas peÂnyakit berbahaya. Mendorong BPOM untuk lebih agresif mengawasi dan memfilter distribusi vaksin dan obat-obatan pada umumnya," demikian petisi tersebut.
Hingga tadi malam, 20 ribu lebih netizen menandatangani petisi terseÂbut. Mereka juga menuliskan koÂmentar pada kolom yang tersedia.
Di antaranya, akun Rea Adilla setuju pemerintah harus mengumumkan nama distributor vaksin palsu. "Sebutkan nama rumah sakit dan kliniknya. Sudah capek dengan berita lembaga kesehatan komersil yang kerjanya sembarangan. Masak bisa beredar bertahun-tahun kalau tidak ada permintaan. Hukum semua yang terlibat seadil-adilnya dan lakukan tindakan penyelamatan untuk para korban," katanya.
Akun Li Nyuk Lyawoto sepÂendapat, sudah seharusnya pemerÂintah membeberkan nama rumah sakit dan distributor vaksin palsu, "Pemerintah wajib mengumumkan RS/klinik yang menggunakan vakÂsin palsu, audit sistem pembuangan limbah rumah sakit."
Akun Hapiz Maulana menyampaiÂkan, masyarakat merupakan konsumen yang merasakan langsung dampak buruk vaksin palsu, bukan pihak distriÂbusi atau rumah sakit. "Masalah vaksin, masyarakat adalah konsumen, yang bahkan tidak bisa menentukan apakah vaksin yang mereka gunakan baik atau tidak, asli atau palsu. Negara harus menangani masalah ini, jangan terus mengecewakan!" katanya.
Akun Lilik Handayani menegasÂkan, pemerintah harus menelusuri kasus pemalsuan vaksin hingga tunÂtas, agar kasus serupa tidak terulang, "Usut tuntas masalah vaksin palsu sampai ke akar-akarnya. Ini sudah merusak generasi bangsa! Hukum seberat-beratnya para pelaku..."
Akun Mutiaratih Larasati menjelasÂkan, vaksin merupakan hal penting daÂlam pertumbuhan anak. "Vaksin adalah hal utama sebagai tameng kehidupan manusia selanjutnya dari serangan penyakit. Jika tamengnya saja palsu, buÂkankah ini termasuk kasus pembunuhan berencana?" jelasnya.
Akun Mas Wage menceritakan pengalamannya memberikan vakÂsin kepada anaknya di rumah sakit di daerah Depok. Dia khawatir, anaknya diberi vaksin palsu. "Anak-anak saya vaksinasi di Hermina, seberapa jauh ya jangkauan vaksin palsu ini dari Kemang Pratama sampai Depok? Ya Allah, jagalah anak-anak kami dari manusia nggak punya nurani ini," katanya.
Selain di kolom komentar
Change. org, netizen media sosial Twitter juga mendesak pemerintah mengumumkan nama-nama distributor, rumah sakit, klinik atau tempat kesehatan lain yang terindikasi menggunakan vaksin.
Akun @sutanfck juga menyuarakan desakan senada, "Setuju... Selama ini pemerintah dan BPOM selalu menuÂtupi dan melindungi dengan alasan agar masyarakat tidak resah. Justru sebaÂliknya (sebut nama binatang)!!! Seperti kasus susu formula, BPOM tidak mau publikasi merk-merk susunya. BPOM kerjanya cuma absen, duduk terus puÂlang alias makan gaji buta. pas ada kasus heboh baru pada SIDAK!!!! TELAT mas bro.." ***
BERITA TERKAIT: